Lambaian Insaf V4

Sebab kerasnya hati adalah dosa, kemaksiatan, sering bergaul dengan orang-orang lalai serta orang-orang yang fasiq. Sedangkan penyebab hati menjadi lunak, bersih dan tentram adalah mentaati Allah, berteman dengan orang-orang baik, dzikir, membaca Al Qur’an dan istighfar. ~Asyraf Al-Fandani~


Bagaimana helahku apabila datang hisab di hari esok,
dan aku akan dibangkitkan dengan bebanan-bebanan dan dosa-dosaku.

Dan aku telah melihat kepada lembaranku yang hitam,
dan keburukan dosa-dosa lama atau yang baru.

Sesungguhnya Tuhan kami membuka tabir-tabir,
pada hari kiamat hari kehinaan dan keterlanjangan.

Berjaya seluruh yang taat kepada Yang Maha Mulia di hari esok,
dengan syurga 'Adn serta pohon-pohon dan sungai-sungai.

Mereka beroleh nikmat kekalan yang tiada habis-habisnya,
mereka kekal dalam syurga pencipta Yang Maha Esa.

Dan sesiapa yang derhaka dalam lubung neraka tempat tinggalnya,
ia tidak berehat dari seksaan dalam neraka.

Perbanyaklah menangis maka tangisan berhak bagi kamu,
daripada penyeksaan dengan air mata yang tidak mengalir.

sumber: kitab Bustaan al-waa'izhiin wa Riyadh as-saami'iin

http://al-muqorrobun.blogspot.com/
READ MORE - Menangislah Wahai Manusia...

Tarbiyah Akhirat



بسم الله الرحمن الرحيم
salam ketenangan


Sabda Rasulullah SAW, “Barangsiapa akhirat menjadi obsesinya, maka Allah menjadikan semua urusannya lancar, hatinya kaya dan dunia datang kepadanya dalam keadaan tunduk. Dan, barangsiapa dunia menjadi obsesinya, maka Allah mengacaukan semua urusannya, menjadikannya miskin dan dunia datang kepadanya sebatas yang ditakdirkan untuknya.” Ibnu Majah meriwayatkan dengan sanad shahih.



Barangsiapa akhirat menjadi kesibukan utamanya dan obsesinya, maka setiap hari ia ingat perjalanan hidupnya kelak, apa pun yang ia lihat di dunia pasti ia hubungkan dengan akhirat, dan akhirat selalu ia sebut di setiap pembahasannya. Ia tidak bahagia kecuali kerana akhirat, tidak sedih kecuali kerana akhirat. Tidak redha kecuali kerana akhirat. Tidak marah kecuali kerana akhirat. Tidak bergerak, kecuali kerana akhirat. Dan tidak berusaha kecuali kerana akhirat.Siapa saja yang beroleh seperti itu, ia diberi tiga kenikmatan oleh Allah Ta’ala. Nikmat yang Dia berikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki diantara hamba-hambaNya. Iaitu orang-orang yang menyiapkan jiwa mereka hanya untuk ALLAH Ta’ala dan tidak ada selain DIA yang masuk ke hati mereka, baik berupa berhala-berhala dunia, atau perhiasan, atau pesonanya.



Nikmat tersebut adalah sebagai berikut:



1. Seluruh urusan hidupnya lancar Allah SWT memberinya ketenteraman dan kedamaian, mengumpulkan semua ideanya, meminimakan sifat lupanya, mengharmonikan keluarganya, menambah jalinan kasih sayang antara dirinya dan pasangannya, merukunkan anak-anaknya, mendekatkan anak-anak padanya, menyatukan kaum kerabat, menjauhkan konflik dari mereka, mengumpulkan hartanya, ia tidak bimbang memikirkan perniagaannya yg tidak begitu baik, tidak bertindak seperti orang bodoh, membuat hati manusia terarah padanya, siapapun mencintainya dan melancarkan urusan-urusan yang lain.


2. Kaya hati Nikmat yang paling agung adalah kaya hati, sebab Rasulullah SAW bersabda dalam hadith sahih, yang ertinya;


“ Kekayaan hakiki bukan bererti harta melimpah. Tapi, kekayaan ialah kekayaan hati” (HR. Muslim)


Imam Al Manawi berkata; maksudnya, kekayaan terpuji itu bukan banyak harta dan kebendaan. Ini kerana banyak sekali manusia dijadikan kaya oleh Allah, namun kekayaannya yang banyak itu tidak bermanfaat baginya dan ia bercita-cita menambah kekayaannya, tanpa peduli dari mana sumbernya.


Ia seperti orang miskin, kerana begitu kuat keinginannya. Orang seperti itu miskin selama-lamanya. Tapi, kekayaan terpuji dan ideal menurut orang-orang sempurna adalah kekayaan hati.


Di riwayat lain disebutkan kekayaan jiwa. Maksudnya, orang yang punya kekayaan jiwa merasa tidak bimbang akan rezekinya, menerimanya dengan lapang dada, dan redha dengannya, tanpa memburu dan memintanya dengan menekan.


Barangsiapa di jaga jiwanya dari kerakusan, maka jiwanya tenteram, agung, mendapatkan kebersihan, kemuliaan, dan pujian. Itu semua jauh lebih baik dari kekayaan yang diterima orang yang miskin hatinya. Kekayaan membuat orang yang miskin hati terperosok dalam hal-hal hina dan perbuatan-perbuatan murahan, kerana kecilnya obsesi yang ia miliki. Akibatnya, ia menjadi orang kerdil di mata orang, hina di jiwa mereka, dan menjadi orang paling hina.


Jika seseorang punya harta yang berlimpah, namun ia tidak qana’ah (merasa cukup) dengan rezeki yang diberikan Allah SWT kepadanya, maka ia hidup terengah-engah seperti binatang buas dan menjadikan hartanya sebagai tuhan baru. Sungguh, ia orang miskin sejati, kerana orang miskin ialah orang yang selalu tidak punya harta dan senantiasa merasa tidak cukup.


Dikisahkan, seseorang berkata kepada orang zuhud, Ibrahim bin Adham, lalu berkata,


“Saya ingin anda menerima jubah ini dariku.” Ibrahim bin Adham berkata,”Kalau Anda kaya, saya mahu menerima hadiah ini. Jika anda miskin, saya tidak mahu menerimanya.” Orang itu berkata, ”saya orang kaya.”


Ibrahim bin Adham berkata, ”Anda punya jubah berapa?” Orang itu menjawab,”Dua ribu jubah.” Ibrahim bin Adham berkata,”Apakah Anda ingin punya empat ribu jubah?” Orang itu menjawab, “Ya.” Ibrahim bin Adham berkata,”Kalau begitu anda miskin (kerana masih memerlukan jubah lebih banyak lagi). Saya tidak mahu menerima hadiah jubah ini darimu.”


3. Dunia datang kepadanya Saat ia lari dari dunia, justru dunia mengejarnya dalam keadaan tunduk. Seperti yang dikatakan Ibnu Al-jauzi,


” Dunia itu bayangan. Jika engkau berpaling dari bayangan, maka bayangan itu mengekorimu. Jika engkau memburu bayangan, maka bayangan menghindar darimu. Orang zuhud tidak menoleh kepada bayangan malah diikuti bayangan. Sedang orang (rakus tidak melihat bayangan setiapkali ia menoleh kepadanya.”


Sedang orang yang dunia menjadi obsesinya, ia hanya memikirkan dunia, bekerja kerananya, peduli kepadanya, tidak bahagia kecuali kerananya, tidak berteman dan memusuhi orang kerananya. Akibatnya, ia dihukum Allah dengan tiga hukuman;


1. Urusannya kacau Allah SWT mengacaukan semua urusannya. Hatinya menjadi gundah tidak tenang, fikirannya kacau, jiwanya goncang dan kalut dalam pelbagai hal. Allah SWT mengacaukan hartanya, mengacaukan anak-anak dan pasangannya. Allah SWT membuat manusia antipati kepadanya. Tidak ada seorangpun yang mencintainya sebab Allah SWT menentukannya dibenci orang di bumi.



2. Selalu miskin Hukuman ini membuatnya selalu tidak puas, padahal memiliki harta banyak. Ia senantiasa merasa miskin. Dan itu menjadikannya lari hingga terengah-engah di belakang harta.



3. Dunia lari darinya Dunia selalu lari darinya. Ia memburu dunia namun dijauhi dan ia berlari dibelakangnya, persis seperti orang yang mengira fatamorgana itu air. Ketika ia tiba di fatamorgana, ia tidak mendapatkan apa-apa.



Inilah yang membuat Utsman bin Affan Radhiyallahu Anhu berkata, “Obsesi dunia itu kegelapan di hati, sedang obsesi kepada akhirat itu cahaya di hati.”



Bagaimana karakteristik dari orang-orang yang terobsesi pada akhirat?



Kita dapat mengukur dengan membandingkannya pada diri kita.Sebelumnya mengenai hal ini, ada tiga kelompok cara pandang manusia terhadap kehidupan:



1. Orang yang lebih sibuk dengan akhirat daripada dunia.Mereka mebuat hidupnya didominasi oleh akhirat. Dunia hanya diletakkan digenggaman tangannya bukan di hatinya. Ini adalah kelompok orang yang beruntung.



2. Orang yang lebih sibuk dengan dunia daripada dengan akhiratMereka begitu cinta dunia hingga dunia menguasainya dan membuatnya lupa kepada akhirat dan mereka juga tidak tahu bahawa dunia itu jambatan menuju akhirat. Ini adalah kelompok orang yang celaka



3. Orang yang sibuk dengan keduanya sekaligus. Mereka tidak ingin masuk pada kelompok pertama atau kedua, namun ingin mendapatkan sebahagian karakteristik kelompok pertama dan sebahagian kelompok kedua. Mereka ini adalah kelompok yang berada dalam situasi krisis.



Tentunya kita tidak ingin masuk ke dalam kelompok kedua dan ketiga, kerananya kita perlu mengetahui karakteristik kelompok pertama iaitu orang-orang yang berjaya.Karakteristik dari kelompok pertama antara lain:



1. Sedih kerana akhiratSedih kerana akhirat membuatkan seseorang memiliki perasaan takut kepada Allah Ta’ala menghisab dirinya pada Hari Kiamat, lalu ia menghisab dirinya sebelum ia dihisab kelak di akhirat.



2. Selalu mengadakan Muhasabah (evaluasi diri)Umar bin Khattab ra berkata “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab. Timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang. Dan, bersiap-siaplah menghadapi Hari Kiamat.”



3. Selalu beramal untuk akhiratAmal soleh bukan hanya solat, puasa, membaca Al-qur’an dan dzikir, tapi amal soleh adalah apa saja yang dicintai Allah Ta’ala.



4. Tersentuh dan sensitif melihat pemandangan kematianSeorang tabi’in Ibrahim An Nakhai berkata, “Jika kami datang ke rumah orang yang meninggal dunia atau mendengar ada orang yang meninggal dunia, hal itu membekas pada kami hingga berhari-hari, kerana kami tahu ada sesuatu (ajal) datang pada orang tersebut, lalu membawanya ke syurga atau neraka”



Itulah pengingat bagi kita semua, bahawa sesungguhnya kehidupan ini adalah jalan untuk kembali kepada Allah, sekolah yang laporannya nanti akan diserahkan di akhirat. Mari kita sama-sama mengevaluasi diri kita, selalu meluruskan niat kita hanya kepada Allah dan berdoa kepada-Nya memohon ketetapan iman di hati sampai pada hari penutup kita nanti.



“Yaa muqollibalquluub tsabbit qolbiy alaa diinika” Wahai Dzat yang membolak-balik hati, kukuhkan hatiku tetap berada di atas agamamu.



READ MORE - Tarbiyah Akhirat


بسم الله الرحمن الرحيم
salam ketenangan
Mengapa Amalan Ibadah Kita Ditolak Oleh Allah?
Kisah Mu'az bin Jabal menangis dengan hebatnya setelah mendengar nasihat Nabi s.a.w. bilamana beliau menceritakan amalan-amalan yang di bawa oleh malaikat Hafazhah tidak dapat diterima-Nya oleh beberapa sebab seperti sikap perbuatan hamba-Nya yang tidak diperkenankan.


Kisahnya begini:

Pada suatu hari, seorang lelaki bertanya kepada Mu'az bin Jabal: "Apakah hadith-hadith yang tuan pernah dengar daripada Rasulullah s.a.w.?" Mu'az pun terdiam sebentar. Kemudian Mu'az pun dengan tiba-tiba sahaja menangis dengan hebatnya seolah-olah tidak akan berhenti lagi. Setelah lama kemudian, Mu'az mulai reda daripada tangisannya dan berdiam seketika, lalu Mu'az pun berceritalah, katanya: "Rasulullah s.a.w. pernah bersabda: "Mudah-mudahan akan menjadi kebaikan kiranya bagi jika engkau selalu ingat dan sentiasa awas". Demikianlah sabdanya. Lalu Mu'az pun meneruskan kisahnya lagi.


"Allah telah menjadikan tujuh malaikat, sebelum Allah menjadikan tujuh petala langit dan tujuh petala bumi. Pada setiap lapisan langit ada pintunya, ditugaskan pada setiap pintu langit seorang malaikat yang begitu besar dan tersangat cantik serta indah dan hebat".


1. Pengumpat

Naik malaikat Hafazhah kelangit pertama membawa amalan seorang hamba yang dilakukan pagi dan petang, siang dan malam, bersinar-sinar cahaya amalannya seperti matahari, lalu malaikat penjaga pintu langit pertama berkata: "Bawa kembali amalan orang itu dan hempaskan kemukanya! Aku Allah tempatkan di sini sebagai peneliti dosa orang-orang mengumpat supaya tidak membiarkan amalan-amalan orang mengumpat naik melintasi akuke atas".


2. Bermegah Dengan Kebendaan

Datang pula malaikat Hafazhah lainnya yang telah melepasi pintu langit pertama yang membawa amalan soleh hamba Allah yang sangat bersinar-sinar amalannya itu. Apabila sampai kelangit kedua, maka malaikat penjaga pintu lagit itu pun berkata: "Berhenti! Ambil amalan itudan pukulkan kemuka orang yang empunya amalan itu, kerana bersarang dengan kemegahan dunia, tidak boleh melintasi aku kerana ia bermegah-megah dengan amalannya kepada manusia, mencari keredhaan manusia (kerana pangkat, kerana jabatan, kerana wang, kerana nama,
dan kerana pujian dan sebagainya)".


3. Takabur

Naik pula malaikat Hafazhah yang lainnya lagi, yang telah melepasi pintu langit pertama dan kedua yang membawa amalan hamba Allah yang bercahaya dan cemerlang dari amalan sedekah puasa, sembahyang yang menakjubkan malaikat Hafazhah sendiri. Apabila tiba dilangit ketiga, ditahan oleh malaikat penjaga pintu langit ketiga. Katanya: "Berhenti! Ambil amalan itu dan pukulkan kemuka tuannya, aku malaikat pengawas sifat-sifat takabur, tidak membenarkan melintasi aku dengan perintah Allah, kerana amalan ibadahnya mengandungi sifat takabur, selalu takabur dalam majlis ramai".


4. `Ujub

Naik pula malaikat Hafazhah yang lainnya lagi kelangit yang keempat,
yang telah melepasi pintu langit pertama, kedua dan ketiga yang membawa amalan hamba Allah yang bersinar-sinar cahayanya. Sungguh hebat, berdengung bunyinya amalan itu yang berisi tasbih, sembahyang haji umrah, tidak dibenarkan melintasinya, lalu berkata malaikat penjaga pintu langit itu: "Berhenti di sini! Tidak boleh meliwati dari sini, aku malaikat penjaga pintu langit keempat, diperintah Allah amalannya itu dipukul kebelakangnya dan diperutnya kerana aku malaikat peneliti sifat `ujub, dia sangat `ujub (takjub/hairan) dengan amalan
sendiri (merasa bangga kerana banyak amalan hingga menghairankan dirinya".


5. Hasad Dengki

Naik lagi malaikat Hafazhah yang lainnya, yang telah melepasi pintu langit pertama, kedua, ketiga dan keempat yang membawa amalan hamba Allah, apabila tiba dipintu langit yang kelima, dilihat oleh malaikat penjaga pintu langit kelima itu bahawa malaikat Hafazhah membawa amalan seperti belarak pengantin perempuan dengan hebatnya. Lalu malaikat penjaga langit itu berkata: "Berhenti! Pukulkan amalan itu kemuka tuannya, ketengkuknya, kebahunya, aku malaikat pengawas sifat dengki manusia tidak akan membenarkan orang-orang yang hasad dengki amalannya itu naik melewati aku dilangit kelima ini".


6. Rahim

Naik lagi malaikat Hafazhah yang lainnya, yang telah melepasi pintu langit pertama, kedua, ketiga, keempat dan kelima yang membawa amalan hamba Allah, apabila tiba dipintu langit yang keenam, lalu ditahan oleh malaikat penjaga langit keenam: "Berhenti! Ambil amalannya itu dan pukulkan kemuka tuannya kerana dia tidak bersifat rahim sesama manusia seperti orang yang ditimpa bala/musibah dia hanya suka sahaja melihatnya. Aku malaikat rahmat sentiasa meneliti sifat rahim manusia. Allah perintahkan aku supaya jangan membiarkan amalan hamba yang tidak bersifat rahim naik ke atas".


7. Riak

Naik lagi malaikat Hafazhah yang lainnya, yang telah melepasi pintu langit pertama, kedua, ketiga, keempat, kelima dan keenam yang membawa amalan hamba Allah yang indah cemelang bersinar-sinar seperti matahari diiringi oleh tiga ribu malaikat, apabila tiba dipintu langit yang ketujuh, maka ditahan oleh malaikat pengawal pintu langit itu:

"Berhenti! Pukulkan amalan itu kemukanya dan segala anggota badannya dan tutupkan pintu hatinya dengan amalan itu. Aku diperintahkan Allah melarang orang yang begini amalannya meliwati dari langit ketujuh kerana amalannya menghendaki pujian dari ahli-ahli ilmu (ulama' fuqahah) supaya dia disebut termasuk ke dalam golongan ulama' fuqahah supaya mashur namanya (amalan riak: memperlihat-lihatkan, menunjuk-nunjuk kepada manusia mencari pujian dari amalannya itu)- kerana amalannya itu tidak ikhlas kerana Allah – riak kepada manusia– Allah tidak melihat amalan orang yang riak".


8. Tidak Ikhlas

Naik lagi malaikat Hafazhah yang lainnya, yang telah melepasi pintu langit pertama, kedua, ketiga, keempat, kelima, keenam dan ketujuh yang membawa amalan hamba Allah yang soleh dari sembahyangnya, zakatnya, haji umrahnya, solehnya, waraknya, baik akhlaknya, berdiam diri sentiasa dalam zikir. Diiringi oleh malaikat segenap petala langit kerana kebesaran, kehebatan amalannya itu sehingga dapat melintasi segenap tujuh lapisan pintu langit dan menembusi segala hijab yang amat jauh di atas dari langit ketujuh terus menuju kehadrat Allah s.w.t. lalu mereka sekeliannya berhenti dihadapan Allah taala menjadi saksi atas amalan orang soleh itu kerana ikhlasnya. Allah berfirma yang bermaksud: "Kamu semua penjaga amalan hamba-hamba-Ku, Aku pengawas atas dirimu. Sebenarnya amalannya bukan kerana keredhaan-Ku, hanya lain yang dicarinya, maka Aku laknatkan ke atasnya", dan semua malaikatpun turut melaknat pula bersama Allah dan melaknatkan pula oleh tujuh petala langit dan tujuh petala bumi dengan segala isinya.

Moga-moga ianya menjadi tauladan dan sempadan buat diri ana dan buat
antum semua.
Wassalam.

Sama2 kita amalkan dan sampaikan kepada yg lain ...

READ MORE - Mengapa Amalan Kita Ditolak Oleh Allah?

Wujud amal dalam kubur


بسم الله الرحمن الرحيم
salam ketenangan
Pada suatu waktu,Hajjaj al-Aswad bercerita : "Di dalam tidur,aku bermimpi seakan-akan diriku memasuki kubur-kubur umat manusia.Tampak aku lihat seakan-akan mereka baru tidur.Ada yang tidur di atas tanah,ada yang di atas hamparan sutera,ada yang di atas kain sutera berhias indah.Adapula yang tidur sambil tersenyum dan ada yang memantulkan cahaya berkilau.Dan ada pula yang berubah warna. "

Pada kesempatan mimpinya itu Hajjaj berdoa : "Ya Tuhanku,sekiranya Engkau kehendaki,mengapa keadaan mereka tidak engkau samakan." Ketika itu terdengar hatif,(suara tanpa wujud) menggema : "Wahai Hajjaj,kubur ini adalah tempat amal-amal mereka."

Lebih lanjut Hajjaj al-Aswad menegaskan : "Maka aku pun tersentak bangun dari tidurku, gementar mendengar suara itu."

Sumber : Kisah-kisah SUFI ( Imam Abdul Rahman Ibnul Jauzi)

****************

SubhanaAllah,tersentak mendengar kisah ini,kerana terdetik di hati sanubari saya,sepanjang hidup ini,adakah saya menitikberatkan amalan-amalan soleh?Bagaimanakah kita hendak menghadapi alam kubur suatu ketika nanti dimana seketika ini kita masih lagi lena di buai keindahan dunia berlumuran dosa,bersediakah kita?

Bersamalah memperbanyakan muhasabah diri,renung ke dalam hati sejauh mungkin hingga ke pelusuk hati.Bertanyakan pada diri,layakkah kita dianugerahkan syurga Allah swt yang sangat mahal itu,sedang kita hari ini masih lagi berlumuran dengan dosa?SubhanaAllah...berzikirlah,pujilah Allah,banyakkan menyebut namaNya,hidupkanlah hati dengan zikrullah.Allah

" Ketahuilah dengan mengingati Allah, hati akan menjadi terang" (Ar-Ra'd:28)

Berkesempatan lagi bulan Muharram.Di bulan ini,marilah kita memperbanyakkan amalan-amalan soleh sebagai pembekal kita ke alam kubur kelak.

~asyraf Al-fandani~
"Drp Allah,kpd Allah,beserta Allah"
READ MORE - Wujud amal dalam kubur
بسم الله الرحمن الرحيم
salam ketenangan

Alhamdulillah,...

1. Syukur kpd Allah swt,blog 'Air Mata Keinsafan' ni,akhirnya telah dikemaskini...,

2. Syukran kepada semua pengunjung yang telah sudi melawat ke blog yang tidak seberapa ini,masih banyak lagi kelemahan yang perlu diperbaiki sebenarnya...insyaAllah,akan selalu ana perkemaskan dengan kisah2 yang terbaru akan datang...

3. Jadi,maaflah sekiranya ada kesilapan yang berlaku...semuanya datang daripada Allah swt & kepada Allah ia kembali...ana hanya insan lemah yang masih berusaha untuk memperbaiki diri untuk terus menjadi hamba Allah yang benar2 soleh...

4. InsyaAllah...ana doa2kan sahabat2 semua tergolong di dlm golongan2 yang bertaqwa akhirat kelak...banyakkanlah amalan2 soleh...sebab kiamat besar sedang menghampiri kita...secara sedar @ tidak,kita hari ini masih di dalam golongan yang melakukan dosa...tapi,sekurang-kurangnya kita ada usaha untuk memperbaiki diri untuk terus mencari redha daripadaNya...Allah,

~asyraf Al-fandani~
"drp Allah,kpd Allah,beserta Allah~
READ MORE - salam ketenangan semuanya (^^,)

















B
erikut adalah foto rumah Nabi Saw dan Sayyidah Khadijah, tempat mereka berdua tinggal selama 28 tahun.

Kita dapat melihat apa yang pernah di sampaikan oleh sahabat-sahabat tentang keadaan rumah ini dan bagaimana keadaannya.

Di dalam rumah yang tidak ada apa-apa, kecuali kesederhanaan dengan modal iman. Zaid bin Tsabit, “Anas bin Malik, pelayan Rasulullah pernah memperlihatkan kepadaku tempat minum Rasulullah yang terbuat dari kayu yang keras yang di patri dengan besi, lalu Anas berkata, ‘Wahai Tsabit, inilah tempat minum Rasulullah.’” (HR. Tirmidzi) “Dengan gelas kayu itulah Rasulullah minum air, perasan kurma, madu, dan susu.” (HR. Tirmidzi) dari Anas bin Malik.

Sedangkan, perabot lain yang tampak adalah baju besi yang biasa di pakai Rasulullah saat perang. Akan tetapi, tak lama sebelum beliau meninggal, baju besi itu di gadaikan kepada seorang Yahudi dengan 30 sha’ gandum seperti yang di ceritakan Aisyah. Dan ketika beliau wafat baju itu ada di tangan Yahudi dan belum di tebusnya.

Salah satu akhlak Rasulullah yang pelu dicontoh adalah jika datang dari bepergian di waktu malam, beliau tidak langsung masuk rumah secara tiba-tiba, agar tidak mengejutkan istri dan keluarganya, melainkan terlebih dahulu menunggu sampai pagi. Dan seperti biasanya, tidak lupa beliau mengucap salam ketika masuk ke dalam rumah.

Rumah Nabi Saw dan Sayyidah Khadijah, tempat mereka berdua tinggal selama 28 tahun

Foto ini adalah reruntuhan pintu masuk ke kamar Rasul Saw

Foto ini adalah sisa reruntuhan kamar Rasul Saw dan Sayyidah Khadijah.

Di bawah ini adalah foto reruntuhan tempat Sayyidah Fatimah , putri kesayangan Rasulullah Saw dilahirkan.

Ini adalah foto reruntuhan mihrab tempat Rasulullah saw biasa melakukan solat.


Foto ini adalah makam Sayyidah Khadijah (yang besar) dan putranya, Qasim (yang kecil) di sudut


Berikut ini pula kumpulan Foto Jubah Nabi Muhammad yang dipamerkan di Istambul, Turki. Para pengujung menyaksikan jubah Nabi Muhammad yang berumur lebih dari seribu tahun.

Sebuah jubah milik Nabi Muhammad di pamerkan di Masjid di Istambul, Turki. Masjid yang di bangun tahun 1851 ini oleh Sultan Abdulmecit, dikhususkan menyimpan barang-barang Nabi Muhammad.




READ MORE - Meninjau Reruntuhan Rumah Rasululllah s.a.w.



Tanda-tanda Lemah Iman


  1. Terus menerus melakukan dosa dan tidak merasa bersalah
  2. Berhati keras dan tidak berminat untuk membaca Al-Qur'an
  3. Berlambat-lambat dalam melakukan kebaikan, seperti terlambat untuk melakukan shalat
  4. Meninggalkan sunnah
  5. Memiliki suasana hati yang goyah, seperti bosan dalam kebaikan dan sering gelisah
  6. Tidak merasakan apapun ketika mendengarkan ayat Al-Qur'an dibacakan, seperti ketika Allah mengingatkan tentang hukumanNya dan janji-janjiNya tentang kabar baik.
  7. Kesulitan dalam berdzikir dan mengingat Allah
  8. Tidak merasa risau ketika keadaan berjalan bertentangan dengan syari'ah
  9. Menginginkan jabatan dan kekayaan
  10. Kikir dan bakhil, tidak mau membagi rezeki yang dikaruniakan oleh Allah
  11. Memerintahkan orang lain untuk berbuat kebaikan, sementara dirinya sendiri tidak melakukannya.
  12. Merasa senang ketika urusan orang lain tidak berjalan semestinya
  13. Hanya memperhatikan yang halal dan yang haram, dan tidak menghindari yang makruh
  14. Mengolok-olok orang yang berbuat kebaikan kecil, seperti membersihkan masjid
  15. Tidak mau memperhatikan kondisi kaum muslimin
  16. Tidak merasa bertanggung jawab untuk melakukan sesuatu demi kemajuan Islam
  17. Tidak mampu menerima musibah yang menimpanya, seperti menangis dan meratap-ratap di kuburan
  18. Suka membantah, hanya untuk berbantah-bantahan, tanpa memiliki bukti
  19. Merasa asyik dan sangat tertarik dengan dunia, kehidupn duniawi, seperti merasa resah hanya ketika kehilangan sesuatu materi kebendaan
  20. Merasa asyik (ujub) dan terobsesi pada diri sendiri



Hal-hal berikut dapat meningkatkan keimanan kita:


  1. Tilawah Al-Qur'an dan mentadabburi maknanya, hening dan dengan suara yang lembut tidak tinggi, maka Insya Allah hati kita akan lembut. Untuk mendapatkan keuntungan yang optimal, yakinkan bahwa Allah sedang berbicara dengan kita.
  2. Menyadari keagungan Allah. Segala sesuatu berada dalam kekuasaannya. Banyak hal di sekitar kita yang kita lihat, yang menunjukkan keagunganNya kepada kita. Segala sesuatu terjadi sesuai dengan kehendakNya. Allah maha menjaga dan memperhatikan segala sesuatu, bahkan seekor semut hitam yang bersembunyi di balik batu hitam dalam kepekatan malam sekalipun.
  3. Berusaha menambah pengetahuan, setidaknya hal-hal dasar yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, seperti cara berwudlu dengan benar. Mengetahui arti dari nama-nama dan sifat-sifat Allah, orang-orang yang bertakwa adalah mereka yang berilmu.
  4. Menghadiri majelis-majelis dzikir yang mengingat Allah. Malaikat mengelilingi majels-majelis seperti itu.
  5. Selalu menambah perbuatan baik. Sebuah perbuatan baik akan mengantarkan kepada perbuatan baik lainnya. Allah akan memudahkan jalan bagi seseorang yang bershadaqah dan juga memudahkan jalan bagi orang-orang yang berbuat kebaikan. Amal-amal kebaikan harus dilakukan secara kontinyu.
  6. Merasa takut kepada akhir hayat yang buruk. Mengingat kematian akan mengingatkan kita dari terlena terhadap kesenangan dunia.
  7. Mengingat fase-fase kehidupan akhirat, fase ketika kita diletakkan dalam kubut, fase ketika kita diadili, fase ketika kita dihadapkan pada dua kemungkinan, akan berakhir di surga, atau neraka.
  8. Berdo'a, menyadari bahwa kita membutuhkan Allah. Merasa kecil di hadapan Allah.
  9. Cinta kita kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala harus kita tunjukkan dalam aksi. Kita harus berharap semoga Allah berkenan menerima shalat-shalat kita, dan
    senantiasa merasa takut akan melakukan kesalahan. Malam hari sebelum tidur, seyogyanya kita bermuhasabah, memperhitungkan perbuatan kita sepanjang
    hari itu.
  10. Menyadari akibat dari berbuat dosa dan pelanggaran. Iman seseorang akan bertambah dengan melakukan kebaikan, dan menurun dengan melakukan
    perbuatan buruk.
  11. Semua yang terjadi adalah karena Allah menghendaki hal itu terjadi. Ketika musibah menimpa kita, itupun dari Allah.


~Asyraf~

"Drp Allah,kpd Allah,beserta Allah"
READ MORE - Tanda-tanda Lemah Iman dan Kiat untuk mengatasinya

Antara tanda-tanda hati yang sejahtera adalah:


1) Sentiasa mengarah tuan punya diri untuk terus mengingati dan bertaubat kepada Allah.


2) Sentiasa mengingatkan tuannya untuk beribadat kepada Allah.


3) Rasa selesa, seronok dan kelazatan beribadat lebih daripada kelazatan makanan dan minuman.


4) Memberi tumpuan sedalam-dalamnya terhadap apa yang dibaca khususnya ketika melaksanakan solat.


5) Mengingatkan tuannya agar sentiasa menghiasi diri dengan akhlak yang mulia, sama ada perbuatan, kenyataan dan tindakan.


6) Reda terhadap pelaksanaan perintah Allah dan bersedia untuk meninggalkan segala tegahan dan larangan-Nya.


7) Seronok menghabiskan masa untuk Allah dan gelisah apabila habis untuk selain-Nya.



Tanda-tanda hati yang rosak


1) Hati tidak merasa bersalah apabila terlibat melakukan dosa dan maksiat.


2) Tidak terasa untuk melakukan taubat apabila melakukan kesalahan.


3) Mersa seronok bergelumang dalam dosa.


4) Tidak mempedulikan perintah Allah, malah suka terbabit pada larangan-Nya.


5) Benci kepada kebenaran dan cuba menghalang kemaraannya.


6) Benci kepada orang-orang solih atau mereka yang suka melakukan kebaikan.


7) Suka bertengkar pada perkara yang tidak memberi manfaat untuk agama.


Menerima rasuah, sogokan, riba dan perkara haram serta merasakan keseronokannya.


9) Takut kepada orang yang gagah, tetapi sedikitpun tidak takut kepada Allah.


10) Benci kepada perkara makruf dan suka kepada perkara mungkar.



Penyakit hati


1) Nifaq dan riya’ (menunjuk-nunjuk).


2) Bersangka buruk, mengumpat, menghina, subahat pada yang haram dan ragu-ragu.


3) Hasad dan dendam kesumat.


4) Sombong, bangga diri dan ego.


5) Bohong dan berputus asa.


6) Cinta mendalam kepada selain Allah.


7) Ikut hawa nafsu.


Keras hati (kerana tidak duduk dalam majlis ilmu).


9) Takut kepada selain Allah.


10) Belot dan khianat.


11) Suka memaki hamun orang lain.


12) Bergelumang dengan perkara dunia dan menjadikannya sebagai matlamat hidup.


13) Tidak ada perasaan baik kepada orang lain.



Kaedah rawatan penyakit hati


a) Mentarbiah hati supaya mencintai Allah dengan sedalam-dalamnya.


b) Membaca serta bertadarus (menyelidik) makna dan maksud-maksud ayat al-Quran.


c) Mendekatkan kepada Allah dengan amalan-amalan sunat.


d) Khusyuk dalam solat.


e) Memperbanyak zikir dan memohon ampun kepada Allah.


f) Melakukan kebaikan kerana ikhlas kepada Allah dan mengharapkan keredaan-Nya.


g) Melakukan amal dan ibadat berdasarkan perintah Allah dan Rasul.


h) Beriktikad dengan akidah yang betul.


i) Sentiasa melakukan muhasabah diri.


j) Memperuntukkan masa bagi Allah menerusi penggarapan ilmu-ilmu agama.


k) Memperbanyakkan qiyamullail, berdoa terutamanya pada sepertiga malam.


l) Tunduk dan khusyuk kepada Allah dalam segenap tindakan dan perbuatan.


m) Memastikan sumber makanan dan pakaian adalah halal di sisi Allah SWT.


n) Menundukkan penglihatan kepada perkara-perkara yang diharamkan Allah.


o) Suka menziarahi kubur dan mengingati mati.


p) Sentiasa bersyukur dan reda kepada Allah atas segala nikmat yang dikurniakan.


q) Suka membantu anak-anak yatim dan bermesra dengan mereka.


r) Suka bersahabat dan duduk dengan orang-orang solih yang boleh dijadikan teladan.



Apabila seorang muslim merenung kepada perkara yang telah disebutkan di atas, Insya Allah dia akan menemui sesuatu yang boleh menjadikannya insaf dan sedar dan semoga mahu untuk melakukan perubahan dalam diri menuju kecemerlangan sebagai muslim yang bertakwa kepada Allah.


Risalah PONDOK Pasir Tumboh


~Asyraf Al-Fandani~

READ MORE - Apa yang perlu kita tahu tentang persoalan hati?


Oleh : Ustaz Mukhlis

Seseorang yang ingin menyempurnakan diri sendiri, setelah bertaubat dari segala dosa yang telah dilakukan, maka hendaklah dia sentiasa fokus melihat keaiban diri sendiri dan meninggalkan kesibukan melihat keaiban orang lain.

Manusia yang sentiasa mencari salah dan kelemahan orang lain sentiasa lalai daripada melihat keaiban diri sendiri. Ia bagai pepatah yang mengatakan:

“kuman di seberang laut pun kelihatan, tetapi gajah di hadapan mata sendiri pula tidak kelihatan”


Imam Hasan Al-Bashri r.a. pernah berkata:

“Berbahagialah orang yang sibuk melihat keaiban diri sendiri daripada sibuk melihat keaiban orang lain”.

Orang yang sentiasa fokus dalam melihat kelemahan diri, akan mudah melihat ruang kekurangan diri lalu berusaha untuk membaikinya kerana Allah s.w.t. dan dengan bantuanNya. Usaha melihat ke dalam diri sendiri ini juga dikenali sebagai muhasabah diri.

Muhasabah dari sudut bahasa bererti: memerhatikan dan memperhitungkan.

Muhasabah dari sudut syarak pula bererti: perasaan yang timbul dalam batin seseorang, yang mencela kejahatan nafsu dan perbuatan maksiat yang telah dilakukan, yang mana, dari perasaan tersebutlah, timbulnya rasa keinsafan.

Sheikh Abdul Qadir Isa r.a. berkata:

"Orang yang sentiasa muhasabah dirinya, sentiasa berusaha untuk menjauhi dirinya daripada jalan-jalan yang membawa kepada kemaksiatan, dan sentiasa menyibukkan dirinya dengan ketaatan."
[Haqo'iq 'ani At-Tasawwuf m/s 235]

Firman Allah s.w.t.:

Maksudnya:
"…dan adalah keadaannya itu melewati batas.”
(Surah Al-Kahfi: 28)

Imam Qotadah r.a. berkata berkenaan dengan ayat ini:

"Sesungguhnya, orang yang dimaksudkan di dalam ayat ini telah mensia-siakan dirinya dan merugikan dirinya. Dia menjaga harta-hartanya namun menggadaikan agamanya, akibat tidak muhasabah dirinya…"
[Tibb Al-Qulub bagi Ibn Qayyim: m/s 85]

Telah berkata Imam Al-Hasan berkenaan dengan ayat ini:
"Sesungguhnya, seseorang hamba itu, sentiasa dalam kebaikan, jika dalam dirinya ada seruan yang mencela dirinya, dan muhasabah diri merupakan sifat keutamaannya".

Firman Allah s.w.t. lagi:

Maksudnya:
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang Telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)”
(Surah Al-Hasyr: 18)

Maksud ayat tersebut ialah, Allah s.w.t. menyuruh kita memperhatikan setiap amalan yang dilakukan oleh kita, samada ianya suatu ketaatan ataupun suatu kemaksiatan bagi memastikan kebahagiaan di akhirat kelak.

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
"Orang yang bijak ialah orang yang menghitung dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian…"
(Hadith riwayat At-Tirmizi dan Ibn Majah).

Maksud perkataan "daana nafsahu" dalam hadith tersebut bererti, menghitung dan muhasabah diri.

Imam Az-Zarruq r.a. berkata:

"Kelalaian daripada muhasabah diri itu membawa kepada kerosakan diri. Gagal dalam memperhatikan nafsu diri, membawa kepada sikap redha terhadap keburukan nafsu tersebut."
[Qawa'id At-tasawwuf m/s 75]

Sheikh Abdul Qadir Isa r.a. berkata:

"Sesungguhnya, muhasabah diri itu akan menyemai suatu rasa bertanggungjawab dalam diri seseorang, terhadap Allah s.w.t., makhluk-makhlukNya dan tanggungjawab terhadap dirinya sendiri untuk melaksanakan syariat Allah s.w.t.. Dengan muhasabah diri, seseorang dapat menghayati bahawa, dirinya tidak diciptakan secara sia-sia."

Jenis-jenis Muhasabah Diri

Muhasabah diri ada dua jenis iaitu, muhasabah sebelum beramal dan muhasabah setelah beramal.

Jenis Pertama: Muhasabah Diri Sebelum Melakukan Sesuatu

Maksudnya: Seseorang itu menghitung di permulaan amalannya, samada amalan tersebut perlu dilakukan ataupun perlu ditinggalkan. Jika amalan tersebut sesuatu yang diperlukan, maka lihatlah, adakah ia bersesuaian dengan syariat ataupun bertentangan. Sekiranya bertentangan dengan syariat, maka sewajarnya dia meninggalkan niatnya untuk melakukan perbuatan tersebut, selagimana tidak sampai tahap mudarat. Jika mudarat, maka boleh dilakukan sekadar ingin menolak kemudaratan.

Al-Hasan berkata:


"Allah s.w.t. merahmati seseorang yang berhenti sejenak sebelum melakukan sesuatu, lalu memperhatikan niatnya. Jika amalan itu ingin dilakukan, maka dia meneruskan amalannya. Adapun jika bukan kerana Allah s.w.t., maka dia meninggalkannya."


Seterusnya, jika dia pasti, niat perkara yang ingin dilakukannya itu kerana Allah s.w.t, dan perkara tersebut perlu dilakukannya, maka hendaklah dia pastikan, adakah dia mampu untuk melakukannya ataupun tidak. Jika dia tidak mampu lakukan kesorangan, maka tinggalkanlah dahulu perkara tersebut, ataupun meminta bantuan daripada orang lain.

Jika dia mampu melakukan perbuatan tersebut, maka dia perhatikan pula, adakah perbuatan itu lebih baik dilakukan atau lebih baik ditinggalkan daripada melakukannya.

Jika perbuatan itu lebih baik dilakukannya, daripada ditinggalkannnya, maka perhatikanlah, adakah faktor pendorong dia melakukan amalan tersebut, kerana mengharapkan keredhaan dan ganjaran daripada Allah s.w.t., ataupun kerana inginkan ganjaran duniawi dan ganjaran makhluk.

Jika faktor amalan tersebut kerana inginkan ganjaran makhluk, maka, baikilah niat, barulah meneruskan amalan tersebut. Jika faktor pendorong melakukan amalan tersebut kerana Allah s.w.t., maka teruskanlah melakukan perkara tersebut dengan meminta bantuan daripada Allah s.w.t, untuk kejayaan usaha tersebut, kerana seseorang hanya mampu melakukan sesuatu dengan izin Allah s.w.t..

Jenis Kedua: Muhasabah Setelah Melakukan Sesuatu:

Maksudnya, seseorang itu memperhitungkan amalan yang telah dilakukannya iaitu:

Pertama: Menilai semula, adakah amalan tersebut menepati seluruh hak-hak Allah s.w.t. dalam ketaatan.

Kedua: Memerhatikan semula, kemungkinan ada amalan yang sebenarnya, lebih patut ditinggalkan daripada ianya dilakukan, lalu berazam untuk tidak mengulangi kembali kesalahan tersebut.

Ketiga: Memerhatikan semula, niatnya dalam amalan tersebut. Jika kerana Allah s.w.t, maka hendaklah dia bersyukur kepada Allah s.w.t., kerana membantunya dalam ketaatan kepadaNya. Jika kerana makhluk atau kepentingan duniawi, maka hendaklah dia meminta ampun kepada Allah s.w.t. daripada dosa tersebut lalu berazam untuk tidak mengulanginya.

Kesimpulan

Muhasabah diri adalah antara akhlak yang mulia yang dapat membantu seseorang untuk terus menyempurnakan aspek kehambaan dirinya dalam mencapai keredhaan Allah s.w.t.. Lihatlah kepada diri sendiri, nescaya akan terzahir bahawasanya segala yang berlaku di sekelilingmu adalah untuk menyempurnakan kehambaanmu. Itulah interaksi Allah s.w.t. kepadamu melalui perbuatan-perbuatan dan ketentuanNya.

Semoga Allah s.w.t. berikan kepada kita kekuatan untuk merealisasikan makna muhasabah dalam diri kita agar kita dapat mencontohi Saidin Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam dalam perkataan, perbuatan dan hal hubungan hati Baginda sallallahu ‘alaihi wasallam dengan Allah s.w.t..

Wallahu a’lam…

Al-Faqir ila Rabbihi Al-Jalil

Raja Ahmad Mukhlis bin Raja Jamaludin Al-Razi Al-Azhari

‘AmalahuLlahu bi althofiHi al-Khafiyyah

Sumber : Http://Mukhlis101.Multiply.Com
READ MORE - Renungilah ke dalam Diri Sendiri Untuk Terus Memperbaiki Diri
Related Posts with Thumbnails

Tuan Guru dan Habib Umar

Tuan Guru dan Habib Umar

jom ikut saye

pelawat

  © Blogger template Brownium by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP