Lambaian Insaf V4

“ Sebab kerasnya hati adalah dosa, kemaksiatan, sering bergaul dengan orang-orang lalai serta orang-orang yang fasiq. Sedangkan penyebab hati menjadi lunak, bersih dan tentram adalah mentaati Allah, berteman dengan orang-orang baik, dzikir, membaca Al Qur’an dan istighfar. ”~Asyraf Al-Fandani~

Bersediakah kita?



بسم الله الرحمن الرحيم


Jika dihitung-hitung umur kita selama mana kita hidup di atas muka bumi ini dengan amalan-amalan yang telah dilakukan oleh kita sudah pasti dan pasti amalan kita terlalu sedikit jika dibandingkan perbuatan dosa yang telah kita lakukan pada masa lampau.


Allahuakhbar...Jika kita merasa amalan kita sudah cukup banyak dan sempurna,itulah adalah perasaan kita semata-mata dan sebenarnya segala amalan kita tidaklah banyak mana pun.Kalau kita lihat dalam pelbagai sudut persoalan,ikhlaskah kita dalam beribadat?sungguhkah kita?sempurnakah ia?benar-benar takutkah kita pada Allah swt?kusyukkah kita dalam solat selama ni?betulkah solat itu cara ditunjukkan nabi saw?Allahuakhbar...banyak lagi kita boleh fikir.Bila ditolak-tolak...terlalu sedikit.Kalau dikira amalan,memang tak layak pun masuk syurga Allah swt.Tetapi semuanya daripada rahmat Allah kepada hambanya,kesyurga akhirnya bagi orang-orang yang beriman.Inilah bukti cinta Allah.

Alam kubur..
.sudahkah kita benar-benar bersedia untuk menghadapinya?bersediakah kita menjawab soalan-soalan yang tersedia?Jika kita belum bersedia,cepat-cepatlah bertaubat nasuha memohon ampun kepada Allah swt.Ini saja jalan untuk menyelamatkan@meringankan kita dari azab kubur.

Bagaimana rasanya jika kita dihadapkan di hadapan Allah swt...
dengan dosa-dosa yang melimpah-ruah banyaknya?Di dunia,kita mengaku kita cinta akan Allah swt,tapi kita sering lalai dari solat,bertuhankan nafsu,menghinakan saudara kita seislam,berbuat andaian yang mendatangkan fitnah.Sesungguhnya kita berbohong pada Allah sebenarnya.Allah...

Jadi saya menyeru pada semua pembaca,bermulalah dari sekarang untuk siapkan diri lakukan taubat memohon keampunan daripada Allah swt dengan sebenarnya.Kita sudah ketiadaan masa,gunakanlah peluang yang kita ada,mati hanya sekali,bukan 3 kali.Bila dah mati,tamatlah persinggahan kita di atas muka bumi Allah swt dan bermulanya titik pertemuan ke alam kubur.Allahuakhbar!!! Benarlah kata nabi saw,orang yang mengingati mati merupakan orang yang bijaksana kerana segala persiapan untuk mati telah difikirkan dan dilakukan untuk menghadapi di alam kubur nanti.

Semoga peringatan ini berguna untuk saya dan pembaca.Agar kita sama-sama lakukan taubat kepada Allah memohon keampunan ke atas dosa-dosa besar dan kecil yang telah dilakukan.Mohonlah keampunan kepada Allah swt,sesungguhnya keampunan Allah kepada hambanya lebih besar daripada dosa besar yang dilakukan oleh kita walaupun sebesar gunung.

Berkata Imam Nawawi :

Taubat daripada segala dosa adalah wajib,Sekiranya maksiat tersebut hanya di antara hamba dan Allah swt iaitu tidak berhubung kait dengan hak-hak anak Adam maka terdapat 3 syarat :

1. Meninggalkan maksiat
2.Menyesal dengan perlakuan tersebut
3.Berazam tidak mengulanginya lagi untuk selama-lamanya.

Sekiranya gugur salah satu daripada syarat tadi maka taubat tersebut tidak sah.Jika maksiat itu berkaitan dengan anak adam syaratnya ada 4 iaitu : 3 yang disebutkan tadi dan keempatnya ialah pelepasan daripada tuan empunya.Jika harta atau sebagainya maka hendaklah dikembalikan kepada tuannya.Jika ia termasuk hak-hak anak adam tidak kira apa jua seperti had menuduh atau seumpamanya maka hendaklah minta dihalalkan daripadanya.Dia juga wajib bertaubat daripada segala dosa.

Kisah Iktibar :

Kisah ini ada diriwayatkan di dalam sahih muslim iaitu kisah pembunuh yang membunuh seratus orang.Pembunuh itu diberi panduan dan jalan oleh seorang yang paling alim di zamannya bahawa Allah swt akan menerima taubatnya.Orang alim tadi memberikan syarat kepadanya agar meninggalkan suasana persekitaran yang rosak kerana persekitaran di antara faktor besar yang menyebabkan dia melakukan kejahatan.Kemudian pembunuh itu pergi ke tempat yang dimaksudkan.Disana terdapat orang mukmin yang soleh agar dia mencintai orang-orang yang soleh serta dia dapat diberikan tunjuk ajar dari mereka.

****************
Pintu taubat masih terbuka

sesungguhnya pintu taubat masih terbuka kepada semua manusia sehinggalah matahari terbit dari arah barat.Maka bersegeralah kita semua untuk bertaubat kepadaNya sebelum terlambat.


Sabda rasulullah saw bermaksud :

"Sesungguhnya Allah membuka tanganNya pada malam hari supaya orang yang melakukan maksiat pada siang hari bertaubat dan Dia membuka tanganNya di siang hari supaya yang melakukan maksiat pada malam hari bertaubat hingga matahari terbit dari barat"

(Riwayat Muslim)
~Asyraf Al-Fandani~
"Drp Allah,kpd Allah,Beserta Allah"

*Catatan lepas subuh :
21/6/2010-8 Rejab 1431
READ MORE - Bersediakah kita?

Memohon Cinta Allah

Doa Nabi Daud as Memohon Cinta Allah



Nabi Daud ’alihis-salaam merupakan seorang hamba Allah yang sangat rajin beribadah kepada Allah. Hal ini disebutkan langsung oleh Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam. Nabi Daud ’alihis-salaam sangat rajin mendekatkan diri kepada Allah. Beliau sangat rajin memohon kepada Allah agar dirinya dicintai Allah. Beliau sangat mengutamakan cinta Allah lebih daripada mengutamakan dirinya sendiri, keluarganya sendiri dan air dingin yang bisa menghilangkan dahaga musafir dalam perjalanan terik di tengah padang pasir. Inilah penjelasan Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam mengenai doa Nabi Daud tersebut:



Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: “Di antara doa Nabi Daud ’alihis-salaam ialah: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadaMu cintaMu dan cinta orang-orang yang mencintaiMu dan aku memohon kepadaMu perbuatan yang dapat mengantarku kepada cintaMu. Ya Allah, jadikanlah cintaMu lebih kucintai daripada diriku dan keluargaku serta air dingin.” Dan bila Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam mengingat Nabi Daud ’alihis-salaam beliau menggelarinya sebaik-baik manusia dalam beribadah kepada Allah.” (HR Tirmidzi 3412)


Setidaknya terdapat empat hal penting di dalam doa ini.





Pertama,

Nabi Daud ’alihis-salaam memohon cinta Allah.

Beliau sangat faham bahwa di dunia ini tidak ada cinta yang lebih patut diutamakan dan diharapkan manusia selain daripada cinta yang berasal dari Allah Ar-Rahman Ar-Rahim (Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang). Apalah artinya seseorang hidup di dunia mendapat cinta manusia –bahkan seluruh manusia- bilamana Allah tidak mencintainya. Semua cinta yang datang dari segenap manusia itu menjadi sia-sia sebab tidak mendatangkan cinta Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Sebaliknya, apalah yang perlu dikhawatirkan seseorang bila Allah mencintainya sementara manusia –bahkan seluruh manusia- membencinya. Semua kebencian manusia tersebut tidak bermakna sedikitpun karena dirinya memperoleh cinta Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.


Sebab itulah Nabi Daud ’alihis-salaam tidak menyebutkan dalam awal doanya harapan akan cinta manusia. Beliau mendahulukan cinta Allah di atas segala-galanya. Beliau sangat menyadari bahwa bila Allah telah mencntai dirinya, maka mudah saja bagi Allah untuk menanamkan cinta ke dalam hati manusia terhadap Nabi Daud ’alihis-salaam. Tetapi bila Allah sudah mebenci dirinya apalah gunanya cinta manusia terhadap dirinya. Sebab cinta manusia terhadap dirinya tidak bisa menjamin datangnya cinta Allah kepada Nabi Daud ’alihis-salaam.


Dari Nabi shollallahu ’alaih wa sallam beliau bersabda: “Bila Allah mencintai seorang hamba, maka Allah berseru kepada Jibril: “Sesungguhnya Allah mencintai Fulan, maka cintailah dia.” Jibrilpun mencintainya. Kemudian Jibril berseru kepada penghuni langit: ”Sesungguhnya Allah mencintai Fulan, maka kalian cintailah dia.” Penghuni langitpun mencintainya. Kemudian ditanamkanlah cinta penghuni bumi kepadanya.” (HR Bukhary 5580)




Kedua,

Nabi Daud ’alihis-salaam memohon kepada Allah cinta orang-orang yang mencintai Allah.

Sesudah mengharapkan cinta Allah lalu Nabi Daud ’alihis-salaam memohon kepada Allah kasih-sayang dari orang-orang yang mencintai Allah, sebab orang-orang tersebut tentunya adalah orang-orang beriman sejati yang sangat pantas diharapkan cintanya.


Hal ini sangat berkaitan dengan Al-Wala’ dan Al-Bara’ (loyalitas dan berlepas diri). Yang dimaksud dengan Al-Wala’ ialah memelihara loyalitas kepada Allah, RasulNya dan orang-orang beriman. Sedangkan yang dimaksud dengan Al-Bara’ ialah berlepas diri dari kaum kuffar dan munafiqin. Karena loyalitas mu’min hendaknya kepada Allah, RasulNya dan orang-orang beriman, maka Nabi Daud ’alihis-salaam berdoa agar dirinya dipertemukan dan dipersatukan dengan kalangan sesama orang-orang beriman yang mencintai Allah. Dan ia sangat meyakini akan hal ini.




Sesungguhnya Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersada: “Ruh-ruh manusia diciptakan laksana prajurit berbaris, maka mana yang saling kenal di antara satu sama lain akan bersatu. Dan mana yang saling mengingkari di antara satu sama lain akan berpisah.” (HR muslim 4773)


Ketiga,

Nabi Daud ’alihis-salaam memohon kepada Allah agar ditunjuki perbuatan-perbuatan yang dapat mendatangkan cinta Allah.

Setelah memohon cinta Allah kemudian cinta para pecinta Allah, selanjutnya Nabi Daud ’alihis-salaam memohon kepada Allah agar ditunjuki perbuatan dan amal kebaikan yang mendatangkan cinta Allah. Ia sangat khawatir bila melakukan hal-hal yang bisa mendatangkan murka Allah. Beliau sangat khawatir bila berbuat dengan hanya mengandalkan perasaan bahwa Allah pasti mencintainya bila niat sudah baik padahal kualitas dan pelaksanaan ’amalnya bermasalah. Maka Nabi Daud ’alihis-salaam sangat memperhatikan apa saja perkara yang bisa mendatangkan cinta Allah pada dirnya. Di dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa Allah mencintai Ash-Shobirin (orang-orang yang sabar). Siapakah yang dimaksud dengan Ash-Shobirin? Apa sifat dan perbuatan mereka sehingga menjadi dicintai Allah?



”Dan berapa banyak nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.” (QS Ali Imran ayat 146)



Keempat,

Nabi Daud ’alihis-salaam memohon kepada Allah agar menjadikan cinta Allah sebagai hal yang lebih dia utamakan daripada dirinya sendiri, keluarganya dan air dingin.

Kemudian pada bagian akhir doa ini Nabi Daud ’alihis-salaam kembali menegaskan betapa beliau sangat peduli dan mengutamakan cinta Allah. Sehingga beliau sampai memohon kepada Allah agar cinta Allah yang ia dambakan itu jangan sampai kalah penting bagi dirinya daripada cinta dirinya terhadap dirinya sendiri, terhadap keluarganya sendiri dan terhadap air dingin.


Mengapa di dalam doanya Nabi Daud ’alihis-salaam perlu mengkontraskan cinta Allah dengan cinta dirinya sendiri, keluarganya dan air dingin? Sebab kebanyakan orang bilamana harus memilih antara mengorbankan diri dan keluarga dengan mengorbankan prinsip hidup pada umumnya lebih rela mengorbankan prinsip hidupnya. Yang penting jangan sampai diri dan keluarga terkorbankan. Kenapa air dingin? Karena air dingin merupakan representasi kenikmatan dunia yang indah dan menggoda. Pada umumnya orang rela mengorbankan prinsip hidupnya asal jangan mengorbankan kelezatan duniawi yang telah dimilikinya.

Jadi bagian terakhir doa Nabi Daud ’alihis-salaam mengandung pesan pengorbanan. Ia rela mengorbankan segalanya, termasuk dirinya sendiri, keluarganya sendiri maupun kesenangan duniawinya asal jangan sampai ia mengorbankan cinta Allah. Ia amat mendambakan cinta Allah. Nabi Daud ’alihis-salaam sangat faham maksud Allah di dalam Al-Qur’an:



“Katakanlah: "Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (QS At-Taubah ayat 24)


~Asyraf Al-Fandani~

"Drp Allah,kpd Allah,beserta Allah"

READ MORE - Memohon Cinta Allah
7 Kunci menuju ketenangan hati.


1. Jangan tergantung pada orang lain. Tergantunglah pada diri sendiri dan bersikaplah mendiri.



2. Jangan berburuk sangka orang lain akan membicarakan/menghinamu.



3. Jangan selalu mengingat penyesalan di masa lalu.



4. Jangan menyimpan kemarahan, dendam, iri hati dan kebencian.



5. Jangan membiasakan sikap terburu buru. Maka dari itu Manage lah waktumu.



6. Jangan khawatir akan hari esok. Tuhan menjanjikan masa depan, dan harapan kita tidak akan pernah lenyap.Cinta, hidup dan mati ada di tangan Tuhan.Ia telah menuliskan takdir manusia jauh saat sebelum kita di lahirkan.Ia tahu apa yg terbaik bagi kita, maka dari itu jangan pernah sesali apa yang terjadi meskipun terasa perih bagi kita.Pada akhirnya setiap manusia akan di ciptakan untuk saling berpasang pasangan, maka dari itu jgn pernah kuatir akan cinta mu.



7. Ketuklah, Maka pintu akan terbuka.Ingatlah pada Nya, maka Ia akan mengingatmu.Berdoalah, maka keluh kesahmu akan didengarkan.Yakinlah sahabat.Allah sedang mendengar.



~Tapi semua yang aku tulis di atas tidak pernah aku lakukan dengan bersungguh-sungguh.Aku terlalu muda untuk mengerti,Aku terlalu tua untuk peduli,Aku terlalu bodoh untuk menyedari .Ya Allah...~


~Asyraf Al-Fandani~ (hamba yg hina)

READ MORE - 7 Kunci menuju ketenangan hati.
Related Posts with Thumbnails

Tuan Guru dan Habib Umar

Tuan Guru dan Habib Umar

jom ikut saye

pelawat

free counters

  © Blogger template Brownium by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP