Lambaian Insaf V4
Link nota
Tanda-tanda Lemah Iman
- Terus menerus melakukan dosa dan tidak merasa bersalah
- Berhati keras dan tidak berminat untuk membaca Al-Qur'an
- Berlambat-lambat dalam melakukan kebaikan, seperti terlambat untuk melakukan shalat
- Meninggalkan sunnah
- Memiliki suasana hati yang goyah, seperti bosan dalam kebaikan dan sering gelisah
- Tidak merasakan apapun ketika mendengarkan ayat Al-Qur'an dibacakan, seperti ketika Allah mengingatkan tentang hukumanNya dan janji-janjiNya tentang kabar baik.
- Kesulitan dalam berdzikir dan mengingat Allah
- Tidak merasa risau ketika keadaan berjalan bertentangan dengan syari'ah
- Menginginkan jabatan dan kekayaan
- Kikir dan bakhil, tidak mau membagi rezeki yang dikaruniakan oleh Allah
- Memerintahkan orang lain untuk berbuat kebaikan, sementara dirinya sendiri tidak melakukannya.
- Merasa senang ketika urusan orang lain tidak berjalan semestinya
- Hanya memperhatikan yang halal dan yang haram, dan tidak menghindari yang makruh
- Mengolok-olok orang yang berbuat kebaikan kecil, seperti membersihkan masjid
- Tidak mau memperhatikan kondisi kaum muslimin
- Tidak merasa bertanggung jawab untuk melakukan sesuatu demi kemajuan Islam
- Tidak mampu menerima musibah yang menimpanya, seperti menangis dan meratap-ratap di kuburan
- Suka membantah, hanya untuk berbantah-bantahan, tanpa memiliki bukti
- Merasa asyik dan sangat tertarik dengan dunia, kehidupn duniawi, seperti merasa resah hanya ketika kehilangan sesuatu materi kebendaan
- Merasa asyik (ujub) dan terobsesi pada diri sendiri
Hal-hal berikut dapat meningkatkan keimanan kita:
- Tilawah Al-Qur'an dan mentadabburi maknanya, hening dan dengan suara yang lembut tidak tinggi, maka Insya Allah hati kita akan lembut. Untuk mendapatkan keuntungan yang optimal, yakinkan bahwa Allah sedang berbicara dengan kita.
- Menyadari keagungan Allah. Segala sesuatu berada dalam kekuasaannya. Banyak hal di sekitar kita yang kita lihat, yang menunjukkan keagunganNya kepada kita. Segala sesuatu terjadi sesuai dengan kehendakNya. Allah maha menjaga dan memperhatikan segala sesuatu, bahkan seekor semut hitam yang bersembunyi di balik batu hitam dalam kepekatan malam sekalipun.
- Berusaha menambah pengetahuan, setidaknya hal-hal dasar yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, seperti cara berwudlu dengan benar. Mengetahui arti dari nama-nama dan sifat-sifat Allah, orang-orang yang bertakwa adalah mereka yang berilmu.
- Menghadiri majelis-majelis dzikir yang mengingat Allah. Malaikat mengelilingi majels-majelis seperti itu.
- Selalu menambah perbuatan baik. Sebuah perbuatan baik akan mengantarkan kepada perbuatan baik lainnya. Allah akan memudahkan jalan bagi seseorang yang bershadaqah dan juga memudahkan jalan bagi orang-orang yang berbuat kebaikan. Amal-amal kebaikan harus dilakukan secara kontinyu.
- Merasa takut kepada akhir hayat yang buruk. Mengingat kematian akan mengingatkan kita dari terlena terhadap kesenangan dunia.
- Mengingat fase-fase kehidupan akhirat, fase ketika kita diletakkan dalam kubut, fase ketika kita diadili, fase ketika kita dihadapkan pada dua kemungkinan, akan berakhir di surga, atau neraka.
- Berdo'a, menyadari bahwa kita membutuhkan Allah. Merasa kecil di hadapan Allah.
- Cinta kita kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala harus kita tunjukkan dalam aksi. Kita harus berharap semoga Allah berkenan menerima shalat-shalat kita, dan
senantiasa merasa takut akan melakukan kesalahan. Malam hari sebelum tidur, seyogyanya kita bermuhasabah, memperhitungkan perbuatan kita sepanjang
hari itu. - Menyadari akibat dari berbuat dosa dan pelanggaran. Iman seseorang akan bertambah dengan melakukan kebaikan, dan menurun dengan melakukan
perbuatan buruk. - Semua yang terjadi adalah karena Allah menghendaki hal itu terjadi. Ketika musibah menimpa kita, itupun dari Allah.
~Asyraf~
"Drp Allah,kpd Allah,beserta Allah"
Label: Muhasabah
Antara tanda-tanda hati yang sejahtera adalah:
1) Sentiasa mengarah tuan punya diri untuk terus mengingati dan bertaubat kepada Allah.
2) Sentiasa mengingatkan tuannya untuk beribadat kepada Allah.
3) Rasa selesa, seronok dan kelazatan beribadat lebih daripada kelazatan makanan dan minuman.
4) Memberi tumpuan sedalam-dalamnya terhadap apa yang dibaca khususnya ketika melaksanakan solat.
5) Mengingatkan tuannya agar sentiasa menghiasi diri dengan akhlak yang mulia, sama ada perbuatan, kenyataan dan tindakan.
6) Reda terhadap pelaksanaan perintah Allah dan bersedia untuk meninggalkan segala tegahan dan larangan-Nya.
7) Seronok menghabiskan masa untuk Allah dan gelisah apabila habis untuk selain-Nya.
Tanda-tanda hati yang rosak
1) Hati tidak merasa bersalah apabila terlibat melakukan dosa dan maksiat.
2) Tidak terasa untuk melakukan taubat apabila melakukan kesalahan.
3) Mersa seronok bergelumang dalam dosa.
4) Tidak mempedulikan perintah Allah, malah suka terbabit pada larangan-Nya.
5) Benci kepada kebenaran dan cuba menghalang kemaraannya.
6) Benci kepada orang-orang solih atau mereka yang suka melakukan kebaikan.
7) Suka bertengkar pada perkara yang tidak memberi manfaat untuk agama.
Menerima rasuah, sogokan, riba dan perkara haram serta merasakan keseronokannya.
9) Takut kepada orang yang gagah, tetapi sedikitpun tidak takut kepada Allah.
10) Benci kepada perkara makruf dan suka kepada perkara mungkar.
Penyakit hati
1) Nifaq dan riya’ (menunjuk-nunjuk).
2) Bersangka buruk, mengumpat, menghina, subahat pada yang haram dan ragu-ragu.
3) Hasad dan dendam kesumat.
4) Sombong, bangga diri dan ego.
5) Bohong dan berputus asa.
6) Cinta mendalam kepada selain Allah.
7) Ikut hawa nafsu.
Keras hati (kerana tidak duduk dalam majlis ilmu).
9) Takut kepada selain Allah.
10) Belot dan khianat.
11) Suka memaki hamun orang lain.
12) Bergelumang dengan perkara dunia dan menjadikannya sebagai matlamat hidup.
13) Tidak ada perasaan baik kepada orang lain.
Kaedah rawatan penyakit hati
a) Mentarbiah hati supaya mencintai Allah dengan sedalam-dalamnya.
b) Membaca serta bertadarus (menyelidik) makna dan maksud-maksud ayat al-Quran.
c) Mendekatkan kepada Allah dengan amalan-amalan sunat.
d) Khusyuk dalam solat.
e) Memperbanyak zikir dan memohon ampun kepada Allah.
f) Melakukan kebaikan kerana ikhlas kepada Allah dan mengharapkan keredaan-Nya.
g) Melakukan amal dan ibadat berdasarkan perintah Allah dan Rasul.
h) Beriktikad dengan akidah yang betul.
i) Sentiasa melakukan muhasabah diri.
j) Memperuntukkan masa bagi Allah menerusi penggarapan ilmu-ilmu agama.
k) Memperbanyakkan qiyamullail, berdoa terutamanya pada sepertiga malam.
l) Tunduk dan khusyuk kepada Allah dalam segenap tindakan dan perbuatan.
m) Memastikan sumber makanan dan pakaian adalah halal di sisi Allah SWT.
n) Menundukkan penglihatan kepada perkara-perkara yang diharamkan Allah.
o) Suka menziarahi kubur dan mengingati mati.
p) Sentiasa bersyukur dan reda kepada Allah atas segala nikmat yang dikurniakan.
q) Suka membantu anak-anak yatim dan bermesra dengan mereka.
r) Suka bersahabat dan duduk dengan orang-orang solih yang boleh dijadikan teladan.
Apabila seorang muslim merenung kepada perkara yang telah disebutkan di atas, Insya Allah dia akan menemui sesuatu yang boleh menjadikannya insaf dan sedar dan semoga mahu untuk melakukan perubahan dalam diri menuju kecemerlangan sebagai muslim yang bertakwa kepada Allah.
Risalah PONDOK Pasir Tumboh
~Asyraf Al-Fandani~
Label: Muhasabah
Renungilah ke dalam Diri Sendiri Untuk Terus Memperbaiki Diri
0 ulasan Dicatat oleh Insaf V4 di 12:22 AMOleh : Ustaz Mukhlis
Seseorang yang ingin menyempurnakan diri sendiri, setelah bertaubat dari segala dosa yang telah dilakukan, maka hendaklah dia sentiasa fokus melihat keaiban diri sendiri dan meninggalkan kesibukan melihat keaiban orang lain.
Manusia yang sentiasa mencari salah dan kelemahan orang lain sentiasa lalai daripada melihat keaiban diri sendiri. Ia bagai pepatah yang mengatakan:
“kuman di seberang laut pun kelihatan, tetapi gajah di hadapan mata sendiri pula tidak kelihatan”
Imam Hasan Al-Bashri r.a. pernah berkata:
“Berbahagialah orang yang sibuk melihat keaiban diri sendiri daripada sibuk melihat keaiban orang lain”.
Orang yang sentiasa fokus dalam melihat kelemahan diri, akan mudah melihat ruang kekurangan diri lalu berusaha untuk membaikinya kerana Allah s.w.t. dan dengan bantuanNya. Usaha melihat ke dalam diri sendiri ini juga dikenali sebagai muhasabah diri.
Muhasabah dari sudut bahasa bererti: memerhatikan dan memperhitungkan.
Muhasabah dari sudut syarak pula bererti: perasaan yang timbul dalam batin seseorang, yang mencela kejahatan nafsu dan perbuatan maksiat yang telah dilakukan, yang mana, dari perasaan tersebutlah, timbulnya rasa keinsafan.
Sheikh Abdul Qadir Isa r.a. berkata:
[Haqo'iq 'ani At-Tasawwuf m/s 235]
"Orang yang sentiasa muhasabah dirinya, sentiasa berusaha untuk menjauhi dirinya daripada jalan-jalan yang membawa kepada kemaksiatan, dan sentiasa menyibukkan dirinya dengan ketaatan."
Firman Allah s.w.t.:
Maksudnya:
"…dan adalah keadaannya itu melewati batas.”(Surah Al-Kahfi: 28)
Imam Qotadah r.a. berkata berkenaan dengan ayat ini:
"Sesungguhnya, orang yang dimaksudkan di dalam ayat ini telah mensia-siakan dirinya dan merugikan dirinya. Dia menjaga harta-hartanya namun menggadaikan agamanya, akibat tidak muhasabah dirinya…"[Tibb Al-Qulub bagi Ibn Qayyim: m/s 85]
Telah berkata Imam Al-Hasan berkenaan dengan ayat ini:
"Sesungguhnya, seseorang hamba itu, sentiasa dalam kebaikan, jika dalam dirinya ada seruan yang mencela dirinya, dan muhasabah diri merupakan sifat keutamaannya".
Firman Allah s.w.t. lagi:
Maksudnya:
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang Telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)”(Surah Al-Hasyr: 18)
Maksud ayat tersebut ialah, Allah s.w.t. menyuruh kita memperhatikan setiap amalan yang dilakukan oleh kita, samada ianya suatu ketaatan ataupun suatu kemaksiatan bagi memastikan kebahagiaan di akhirat kelak.
Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
"Orang yang bijak ialah orang yang menghitung dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian…"(Hadith riwayat At-Tirmizi dan Ibn Majah).
Maksud perkataan "daana nafsahu" dalam hadith tersebut bererti, menghitung dan muhasabah diri.
Imam Az-Zarruq r.a. berkata:
[Qawa'id At-tasawwuf m/s 75]
"Kelalaian daripada muhasabah diri itu membawa kepada kerosakan diri. Gagal dalam memperhatikan nafsu diri, membawa kepada sikap redha terhadap keburukan nafsu tersebut."
Sheikh Abdul Qadir Isa r.a. berkata:
"Sesungguhnya, muhasabah diri itu akan menyemai suatu rasa bertanggungjawab dalam diri seseorang, terhadap Allah s.w.t., makhluk-makhlukNya dan tanggungjawab terhadap dirinya sendiri untuk melaksanakan syariat Allah s.w.t.. Dengan muhasabah diri, seseorang dapat menghayati bahawa, dirinya tidak diciptakan secara sia-sia."
Jenis-jenis Muhasabah Diri
Muhasabah diri ada dua jenis iaitu, muhasabah sebelum beramal dan muhasabah setelah beramal.
Jenis Pertama: Muhasabah Diri Sebelum Melakukan Sesuatu
Maksudnya: Seseorang itu menghitung di permulaan amalannya, samada amalan tersebut perlu dilakukan ataupun perlu ditinggalkan. Jika amalan tersebut sesuatu yang diperlukan, maka lihatlah, adakah ia bersesuaian dengan syariat ataupun bertentangan. Sekiranya bertentangan dengan syariat, maka sewajarnya dia meninggalkan niatnya untuk melakukan perbuatan tersebut, selagimana tidak sampai tahap mudarat. Jika mudarat, maka boleh dilakukan sekadar ingin menolak kemudaratan.
Al-Hasan berkata:
"Allah s.w.t. merahmati seseorang yang berhenti sejenak sebelum melakukan sesuatu, lalu memperhatikan niatnya. Jika amalan itu ingin dilakukan, maka dia meneruskan amalannya. Adapun jika bukan kerana Allah s.w.t., maka dia meninggalkannya."
Seterusnya, jika dia pasti, niat perkara yang ingin dilakukannya itu kerana Allah s.w.t, dan perkara tersebut perlu dilakukannya, maka hendaklah dia pastikan, adakah dia mampu untuk melakukannya ataupun tidak. Jika dia tidak mampu lakukan kesorangan, maka tinggalkanlah dahulu perkara tersebut, ataupun meminta bantuan daripada orang lain.
Jika dia mampu melakukan perbuatan tersebut, maka dia perhatikan pula, adakah perbuatan itu lebih baik dilakukan atau lebih baik ditinggalkan daripada melakukannya.
Jika perbuatan itu lebih baik dilakukannya, daripada ditinggalkannnya, maka perhatikanlah, adakah faktor pendorong dia melakukan amalan tersebut, kerana mengharapkan keredhaan dan ganjaran daripada Allah s.w.t., ataupun kerana inginkan ganjaran duniawi dan ganjaran makhluk.
Jika faktor amalan tersebut kerana inginkan ganjaran makhluk, maka, baikilah niat, barulah meneruskan amalan tersebut. Jika faktor pendorong melakukan amalan tersebut kerana Allah s.w.t., maka teruskanlah melakukan perkara tersebut dengan meminta bantuan daripada Allah s.w.t, untuk kejayaan usaha tersebut, kerana seseorang hanya mampu melakukan sesuatu dengan izin Allah s.w.t..
Jenis Kedua: Muhasabah Setelah Melakukan Sesuatu:
Maksudnya, seseorang itu memperhitungkan amalan yang telah dilakukannya iaitu:
Pertama: Menilai semula, adakah amalan tersebut menepati seluruh hak-hak Allah s.w.t. dalam ketaatan.
Kedua: Memerhatikan semula, kemungkinan ada amalan yang sebenarnya, lebih patut ditinggalkan daripada ianya dilakukan, lalu berazam untuk tidak mengulangi kembali kesalahan tersebut.
Ketiga: Memerhatikan semula, niatnya dalam amalan tersebut. Jika kerana Allah s.w.t, maka hendaklah dia bersyukur kepada Allah s.w.t., kerana membantunya dalam ketaatan kepadaNya. Jika kerana makhluk atau kepentingan duniawi, maka hendaklah dia meminta ampun kepada Allah s.w.t. daripada dosa tersebut lalu berazam untuk tidak mengulanginya.
Kesimpulan
Muhasabah diri adalah antara akhlak yang mulia yang dapat membantu seseorang untuk terus menyempurnakan aspek kehambaan dirinya dalam mencapai keredhaan Allah s.w.t.. Lihatlah kepada diri sendiri, nescaya akan terzahir bahawasanya segala yang berlaku di sekelilingmu adalah untuk menyempurnakan kehambaanmu. Itulah interaksi Allah s.w.t. kepadamu melalui perbuatan-perbuatan dan ketentuanNya.
Semoga Allah s.w.t. berikan kepada kita kekuatan untuk merealisasikan makna muhasabah dalam diri kita agar kita dapat mencontohi Saidin Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam dalam perkataan, perbuatan dan hal hubungan hati Baginda sallallahu ‘alaihi wasallam dengan Allah s.w.t..
Wallahu a’lam…
Al-Faqir ila Rabbihi Al-Jalil
Raja Ahmad Mukhlis bin Raja Jamaludin Al-Razi Al-Azhari
‘AmalahuLlahu bi althofiHi al-Khafiyyah
Sumber : Http://Mukhlis101.Multiply.Com
Label: Muhasabah
