Lambaian Insaf V4

Sebab kerasnya hati adalah dosa, kemaksiatan, sering bergaul dengan orang-orang lalai serta orang-orang yang fasiq. Sedangkan penyebab hati menjadi lunak, bersih dan tentram adalah mentaati Allah, berteman dengan orang-orang baik, dzikir, membaca Al Qur’an dan istighfar. ~Asyraf Al-Fandani~
kegersangan hati? maka carilah cinta ILAHI

kegersangan hati? maka carilah cinta ILAHI

Orang dahulu-dahulu ada menyebut,

“ Jika benar cinta, mana buktinya?”

Ya, sebilangan manusia ada yang terang-terangan mengaku diri mereka mencintai ALLAH S.W.T. Bukanlah salah hendak mengumumkan cinta. Rasulullah S.A.W. sendiri terang-terangan menyatakan diri mereka mencintai ALLAH. Malah ada banyak nasyid di dunia ini yang memanifestasikan cinta kepada ALLAH di dalamnya. Maksudnya, ramai manusia mengaku bahawa mereka mencintai ALLAH. Tetapi, apakah buktinya?

Saya menyelongkar bahan di dalam lap top saya, kemudian saya berjumpa dengan satu artikel bertajuk, Bukti-bukti cinta kepada ALLAH. Maka saya suka untuk berkongsi apa yang saya dapat. Elalui pembacaan saya terhadap artikel itu, bukti cinta kepada ALLAH ada sembilan. Banyak juga ya….

Pertama.

Cinta kepada kematian.

Orang yang bercinta tidak berat meninggalkan kediamannya menemui kekasihnya. Rasulullah bersabda: “Barangsiapa lebih suka berjumpa Allah maka Allah suka menjumpainya.” (Riwayat Muttafaqun Alaih). Menjelang kematiannya, Huzaifah berkata: “Kekasih hendak datang. Tidak ada kemenangannya disesali.” Seorang salafi pula berkata: “Tidak ada sesuatu perkara yang lebih disukai Allah pada seseorang hamba setelah kecintaan berjumpa dengan Allah, kecuali banyak sujud.”

Kedua.

Berjihad di jalan Allah.

Berperang dijalan Allah antara cara untuk membuktikan kebenaran cinta seorang hamba yang mahu bertemu Allah: “Sesungguhnya aku cinta Allah kerana itu berperang di jalan Allah dijadikan saksi sebagai salah satu tandanya.” Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalanNya dalam barisan yang teratur.” (ash-Shaaf: 4). Abu Bakar pernah berpesan kepada Umar: “Kebenaran itu berat, dalam keberatannya disertai rasa pahit. Kebatilan itu ringan, di samping ringan tetapi berpenyakit. Kalau kamu pelihara pesanku ini, tidak akan ada suatu keghaiban yang lebih kamu sukai selain mati, dan kematian pasti menemuimu. Tetapi, kalau sia-siakan pesanku ini, tidak akan ada suatu keghaiban yang kamu benci selain mati. Sekali pun kamu tidak mampu menundukkan kematian.” Said bin Musayab dan Bisyr al-Hafi pula berkata:“Tidak ada orang yang benci mati selain orang yang ragu. Kerana seorang kekasih dalam segala waktu tidak pernah benci berjumpa dengan kekasihnya.”

Ketiga.

Menundukkan hawa nafsu.

Allah memberikan sifat orang yang sangat mencintaiNya: “Mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hatinya terhadap barang-barang yang diberikan kepada mereka (kaum muhajirin) dan mereka mengutamakan orang-orang itu atas diri mereka sendiri walaupun mereka memerlukan barang-barang yang mereka berikan itu.” (al-Hasyr: 9). Sahal pernah berkata: “Tanda cinta kepadaNya adalah mendahulukan Allah atas diri sendiri.” Setiap orang yang mentaati Allah itu hanyalah orang yang menjauhi segala larangan. Ketentuan itu sebagaimana difirmankan Allah. Mencintai Allah menjadi sebab Allah mencintainya.

Keempat.

Sentiasa berzikir kepada Allah SWT.

Lisannya tidak bosan menyebut Allah. Suka mengingati Allah, suka membaca al-Qur’an sebagai kalamNya, mencintai RasulNya dan mencintai setiap orang yang mencintai RasulNya serta agamaNya. Seseorang akan meniru apa saja yang melekat pada diri orang yang dicintainya. Sufyan berkata: “Barangsiapa mencintai orang yang mencintai Allah SWT, sesungguhnya ia telah mencintai Allah. Barangsiapa yang memuliakan orang yang mengagungkan Allah sesungguhnya dia telah mengagungkan Allah.” Ibnu Mas’ud pula berkata: “Tidak sepatutnya anda mempertanyakan diri sendiri kecuali tentang al-Qur’an. Kalau anda mencintai al-Qur’an bererti anda mencintai Allah. Kalau anda tidak mencintai al-Qur’an bererti tidak mencintai Allah.”

Kelima.

Bermunajat kepada Allah.

Mempergunakan kesempatan beribadat pada waktu malam yang penuh ketenangan untuk memotong segala penghalang. Ibrahim bin Adham pernah ditanya sewaktu turun dari gunung lalu menjawab: “Dari bersenang-senang dengan Allah.”Antara tanda cinta adalah suka bersenang-senang sewaktu bermunajat dengan kekasih yang dicintai. Abu Bakar as-Shiddiq ra pernah berkata: “Barangsiapa merasakan kenikmatan kejernihan mencintai Allah, nescaya perhatiannya tercurahkan kepadaNya dibanding semua manusia. Muthraf Abu Bakar pula berkata: “Orang yang mencintai itu tidak pernah bosan berbicara dengan kekasihnya.”

Keenam.

Tidak berduka dengan kehilangan sesuatu.

Seseorang yang mencintai Allah tidak terlalu berduka ketika mengalami musibah atau kehilangan sesuatu. Sebaliknya dia akan berduka apabila kehilangan waktu untuk berzikir kepada Allah dan melakukan amal ketaatan. Ulama golongan al-Arifin berkata: “Sesungguhnya Allah mempunyai sejumlah hamba yang sangat mencintaiNya dan memperolehi ketenteraman bersamaNya. Kehilangan apa saja yang dialami tidak meninggalkan bekas sama sekali. Mereka tidak begitu memerhatikan urusan yang berhubung kait dengan keperluan dirinya. Itu terjadi kerana kekuatan yang menguasai diri mereka untuk sempurna dan apa saja yang dikehendaki mudah didapati maka apa saja yang terlepas dari mereka, maka direnungkan secara baik.”

Ketujuh.

Nikmat melaksanakan ketaatan.

Kewajipan yang diperintahkan Allah dilaksanakan tanpa berasa beban. Ulama sufi berkata: “Aku bangun di tengah malam selama 20 tahun, selama itu aku benar-benar menikmatinya.” dan “Beramal atas dasar kecintaan tidak akan meletihkan badan.” Al-Junaid pula berkata: “Tanda orang yang mencintai Allah adalah giat dan rajin membina syahwat yang meletihkan badan tetapi tidak meletihkan hati.” Orang yang mengalami kerinduan tidak akan berat menempuh perjalanan untuk memenuhi keinginan kekasihnya.

Kelapan.

Menjalin kasih sayang sesama makhluk.

Orang yang mencintai Allah akan bertindak keras kepada musuh Allah dan orang yang memandang ringan perkara yang dibenci Allah. Firman Allah: “Mereka keras terhadap orang kafir, tetapi kasih sayang terhadap sesama mereka.” (al-Fath: 29). Bahkan, tidak takut kepada celaan orang dan berani menghadapi kemarahan mereka kerana Allah. Mereka disifatkan sebagai wali Allah: “Mereka berkumpul untuk mengingati Aku (berzikir) seperti burung berpusu-pusu membuat sarangnya. Mereka membenci terhadap segala perkara yang diharamkanNya.”

Kesembilan.

Takut berpaling daripada Allah.

Hamba sebegini takut jika kecintaan yang dimiliki lemah.

Nah, itulah dia Sembilan bukti. Semuanya manis, semuanya melapangkan dada. Malah kita telah membaca beberapa orang manusia sebelum kita yang telah membuktikan cinta mereka kepada ALLAH S.W.T.

Adakah kita mempunyai paling kurang salah satu dari bukti-bukti ini?

Hendak anda buktikan cinta anda?

Mari, kita bersama-sama menggapai cinta kepada ALLAH.

READ MORE - Bukti-bukti jika bercinta dengan ALLAH…(^^,)
Related Posts with Thumbnails

Tuan Guru dan Habib Umar

Tuan Guru dan Habib Umar

jom ikut saye

pelawat

  © Blogger template Brownium by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP