Lambaian Insaf V4

Sebab kerasnya hati adalah dosa, kemaksiatan, sering bergaul dengan orang-orang lalai serta orang-orang yang fasiq. Sedangkan penyebab hati menjadi lunak, bersih dan tentram adalah mentaati Allah, berteman dengan orang-orang baik, dzikir, membaca Al Qur’an dan istighfar. ~Asyraf Al-Fandani~
Beliau ialah Habib Umar putera dari Muhammad putera dari Salim putera dari Hafiz putera dari Abdullah putera dari Abi Bakr putera dari Aidarus putera dari Hussein putera dari Syeikh Abi Bakr putera dari Salim putera dari Abdullah putera dari Abdul Rahman putera dari Abdullah putera dari Syeikh Abdul Rahman al-Saqqaf putera dari Muhammad Maula al-Dawilah putera dari Ali putera dari Alawi putera dari al-Faqih al-Muqaddam Muhammad putera dari Ali putera dari Muhammad Shahib Mirbat putera dari Ali Khali Qasam putera dari Alawi putera dari Muhammad putera dari Alawi putera dari Ubaidillah putera dari Imam al-Muhajir Ahmad putera dari Isa putera dari Muhammad putera dari Ali al-Uraidi putera dari Ja'far al-Sadiq putera dari Muhammad al-Baqir putera dari Ali Zainal Abidin putera dari Hussein sang cucu lelaki, putera dari pasangan Ali putera dari Abu Talib dan Fatimah az-Zahra puteri dari Rasul Muhammad s.a.w..

Beliau dilahirkan di Tarim, Hadramaut, salah satu kota tertua di Yaman yang menjadi sangat terkenal di seluruh dunia dengan berlimpahnya para ilmuwan dan para alim ulama yang dihasilkan kota ini selama berabad-abad. Beliau dibesarkan di dalam keluarga yang memiliki tradisi keilmuan Islam dan kejujuran moral dengan ayahnya yang adalah seorang pejuang martir yang terkenal, Sang Intelektual, Sang Da’i Besar, Muhammad bin Salim bin Hafiz bin Shaikh Abu Bakr bin Salim.

Ayahnya ialah salah seorang ulama intelektual Islam yang mengabdikan hidup mereka demi penyebaran Islam dan pengajaran hukum suci serta aturan-aturan mulia dalam Islam. Beliau secara tragis diculik oleh kelompok komunis dan diperkirakan telah meninggal, semoga Allah mengampuni dosa-dosanya. Demikian pula kedua datuk beliau, Habib Salim bin Hafiz dan Habib Hafiz bin Abdullah yang merupakan para intelektual Islam yang sangat dihormati kaum ulama dan intelektual Muslim pada masanya. Allah seakan menyiapkan kondisi-kondisi yang sesuai bagi Habib Umar dalam hal hubungannya dengan para intelektual muslim disekitarnya
serta kemuliaan yang muncul dari keluarganya sendiri dan dari lingkungan serta masyarakat dimana ia dibesarkan. 

Beliau telah mampu menghafal al-Quran pada usia yang sangat muda dan ia juga menghafal berbagai teks inti dalam fiqh, hadis, bahasa Arab dan berbagai ilmu-ilmu keagamaan yang membuatnya termasuk dalam lingkaran keilmuan yang dipegang teguh oleh begitu banyaknya ulama-ulama tradisional seperti Muhammad bin Alawi bin Shihab dan Syeikh Fadl Baa Fadl serta para ulama lain yang mengajar di Ribat, Tarim yang terkenal itu. Maka beliau pun mempelajari berbagai ilmu termasuk ilmu-ilmu spiritual keagamaan dari ayahnya yang meninggal syahid, Habib Muhammad bin Salim, yang darinya didapatkan cinta dan perhatiannya yang mendalam pada da'wah dan bimbingan atau tuntunan keagamaan dengan cara Allah s.w.t. Ayahnya begitu memperhatikan sang ‘Umar kecil yang selalu berada di sisi ayahnya di dalam lingkaran ilmu dan zikir.

Namun secara tragis, ketika Habib ‘Umar sedang menemani ayahnya untuk solat Jumaat, ayahnya diculik oleh golongan komunis, dan sang ‘Umar kecil sendirian pulang ke rumahnya dengan masih membawa syal milik ayahnya, dan sejak saat itu ayahnya tidak pernah terlihat lagi. Ini menyebabkan ‘Umar muda menganggap bahawa tanggungjawab untuk meneruskan pekerjaan yang dilakukan ayahnya dalam bidang dakwah sama seperti seakan-akan syal sang ayah menjadi bendera yang diberikan padanya di masa kecil sebelum beliau mati syahid.

Sejak itu, dengan sang bendera dikibarkannya tinggi-tinggi, dia memulai, secara bersemangat, 
perjalanan penuh perjuangan, mengumpulkan orang-orang, membentuk majlis-majlis dan dakwah. Perjuangan dan usahanya yang keras demi melanjutkan pekerjaan ayahnya mulai membuahkan hasil. Kelas-kelas mulai dibuka bagi anak muda maupun orang tua di mesjid-mesjid setempat dimana ditawarkan berbagai kesempatan untuk menghafal al-Quran dan untuk belajar ilmu-ilmu tradisional. 

Dia sesungguhnya telah benar-benar memahami Kitab Suci sehingga ia telah diberikan sesuatu yang khusus dari Allah meskipun usianya masih muda. Namun hal ini mulai mengakibatkan kekhawatiran akan keselamatannya dan akhirnya diputuskan beliau dikirim ke kota al-Bayda’ yang terletak di tempat yang disebut Yaman Utara yang menjadikannya jauh dari jangkauan mereka yang ingin mencelakai sang sayyid muda. 

Disana dimulai babak penting baru dalam perkembangan beliau. Masuk sekolah Ribat di al-Bayda’ ia mulai belajar ilmu-ilmu tradisional dibawah bimbingan ahli dari yang mulia Habib Muhammad bin Abdullah al-Haddar, semoga Allah mengampuninya, dan juga dibawah bimbingan ulama mazhab Syafie, Habib Zain bin Sumait, semoga Allah melindunginya. Janji beliau terpenuhi ketika akhirnya dia ditunjuk sebagai seorang guru tak lama sesudahnya. Dia juga terus melanjutkan perjuangannya yang melelahkan dalam bidang dakwah. 

Kali ini tempatnya adalah al-Bayda’ dan kota-kota serta desa-desa disekitarnya. Tiada satu pun yang terlewat dalam usahanya untuk mengenalkan kembali cinta kasih Allah dan Rasul-Nya s.a.w pada hati mereka seluruhnya. Kelas-kelas dan majelis didirikan, pengajaran dimulai dan orang-orang dibimbing. Usaha beliau yang demikian gigih menyebabkannya kekurangan tidur dan istirahat mulai menunjukkan hasil yang besar bagi mereka tersentuh dengan ajarannya, terutama para pemuda yang sebelumnya telah terjerumus dalam kehidupan yang kosong dan dangkal, namun kini telah mengalami perubahan mendalam hingga mereka sadar bahwa hidup memiliki tujuan, mereka bangga dengan indentitas baru mereka sebagai orang Islam,mengenakan serban/selendang Islam dan mulai memusatkan perhatian mereka untuk meraih sifat-sifat luhur dan mulia dari Sang Rasul Pesuruh Allah s.a.w..

Sejak saat itu, sekelompok besar orang-orang yang telah dipengaruhi beliau mulai berkumpul mengelilingi beliau dan membantunya dalam perjuangan dakwah maupun keteguhan beliau dalam mengajar di berbagai kota besar maupun kecil di Yaman Utara. Pada masa ini, beliau mulai mengunjungi banyak kota-kota maupun masyarakat diseluruh Yaman, mulai dari kota Ta'iz di utara, untuk belajar ilmu dari mufti Ta‘iz al-Habib Ibrahim bin Aqil bin Yahya yang mulai menunjukkan pada beliau perhatian dan cinta yang besar sebagaimana ia mendapatkan perlakuan yang sama dari Habib Muhammad al-Haddar sehingga ia memberikan puterinya untuk dinikahi setelah menyaksikan bahwa dalam diri beliau terdapat sifat-sifat kejujuran dan kepintaran yang agung. 

Tak lama setelah itu, beliau melakukan perjalanan melelahkan demi melakukan ibadah Haji di Mekkah dan untuk mengunjungi makam Rasul s.a.w di Madinah. Dalam perjalanannya ke Hijaz, beliau diberkahi kesempatan untuk mempelajari beberapa kitab dari para ulama terkenal disana, terutama dari Habib Abdul Qadir bin Ahmad al-Saqqaf yang menyaksikan bahwa di dalam diri ‘Umar muda, terdapat semangat pemuda yang penuh cinta kepada Allah dan RasulNya s.a.w. dan sungguh-sungguh tenggelam dalam penyebaran ilmu dan keadilan terhadap sesama umat manusia sehingga beliau dicintai al-Habib Abdul Qadir salah seorang guru besarnya. Begitu pula beliau diberkahi untuk menerima ilmu dan bimbingan dari kedua pilar keadilan di Hijaz, yakni Habib Ahmad Mashur al-Haddad dan Habib Attas al-Habshi. 

Sejak itulah nama Habib Umar bin Hafiz mulai tersebar luas terutama dikeranakan kegigihan usaha beliau dalam menyerukan agama Islam dan memperbaharui ajaran-ajaran awal yang tradisional. Namun kepopularan dan ketenaran yang besar ini tidak sedikitpun mengurangi usaha pengajaran beliau, bahkan sebaliknya, ini menjadikannya mendapatkan sumber tambahan dimana tujuan-tujuan mulia lainnya dapat dipertahankan.
Tiada waktu yang terbuang sia-sia, setiap saat dipenuhi dengan mengingat Allah dalam berbagai manifestasinya, dan dalam berbagai situasi dan lokasi yang berbeda. Perhatiannya yang mendalam terhadap membangun keimanan terutama pada mereka yang berada didekatnya, telah menjadi salah satu dari perilaku beliau yang paling terlihat jelas sehingga membuat nama beliau tersebar luas bahkan hingga sampai ke Dunia Baru. 

Negara Oman akan menjadi fase berikutnya dalam pergerakan menuju pembaharuan abad ke-15. Setelah menyambut baik undangan dari sekelompok Muslim yang memiliki hasrat dan keinginan menggebu untuk menerima manfaat dari ajarannya, beliau meninggalkan tanah kelahirannya dan tidak kembali hingga beberapa tahun kemudian. Bibit-bibit pengajaran dan kemuliaan juga ditanamkan di kota Shihr di Yaman timur, kota pertama yang disinggahinya ketika kembali ke Hadramaut, Yaman.

Disana ajaran-ajaran beliau mulai tertanam dan diabadikan dengan pembangunan Ribat al-Mustafa. Ini merupakan titik balik utama dan dapat memberi tanda lebih dari satu jalan, dalam hal melengkapi aspek teoritis dari usaha ini dan menciptakan bukti-bukti kongkrit yang dapat mewakili pengajaran-pengajaran di masa depan. 


Kepulangannya ke Tarim menjadi tanda sebuah perubahan mendasar dari tahun-tahun yang ia habiskan untuk belajar, mengajar, membangun mental agamis orang-orang disekelilingnya, menyebarkan seruan dan menyerukan yang benar serta melarang yang salah. Dar-al-Mustafa menjadi hadiah beliau bagi dunia, dan di pesantren itu pulalah dunia diserukan. Dalam waktu yang dapat dikatakan demikian singkat, penduduk Tarim akan menyaksikan berkumpulnya pada murid dari berbagai daerah yang jauh bersatu di satu kota yang hampir terlupakan ketika masih dikuasai para pembangkang komunis.

Murid-murid dari Indonesia, Malaysia, Singapura, Kepulauan Comoro, Tanzania, Kenya, Mesir, Inggris, Pakistan, Amerika Serikat dan Kanada, juga negara-negara Arab lain dan negara bagian di Arab akan diawasi secara langsung oleh Habib Umar. Mereka ini akan menjadi perwakilan dan penerus dari apa yang kini telah menjadi perjuangan asli demi memperbaharui ajaran Islam tradisional di abad ke-15 setelah hari kebangkitan. Berdirinya berbagai institusi Islami serupa di Yaman dan di negara-negara lain dibawah manajemen al-Habib Umar akan menjadi sebuah tonggak utama dalam penyebaran Ilmu dan perilaku mulia serta menyediakan kesempatan bagi orang-orang awam yang kesempatan tersebut dahulunya telah dirampas dari mereka.


Habib Umar kini tinggal di Tarim, Yaman dimana beliau mengawasi perkembangan di Dar al-Mustafa dan berbagai sekolah lain yang telah dibangun dibawah manajemen beliau. Beliau masih memegang peran aktif dalam penyebaran Islam, sedemikian aktifnya sehingga beliau meluangkan hampir sepanjang tahunnya mengunjungi berbagai negara di seluruh dunia demi melakukan kegiatan-kegiatan mulianya.




READ MORE - Habib Umar bin Hafiz, Ulama Habaib Terkenal Masa Kini


Assalamualaikum wb.

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا
من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له
وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله
 اللهم صل على نبينا محمد وعلى اله وصحبه وسلم
وبعد


Di beberapa tempat, Imam As Syafi’i telah memberi penilaian terhadap para sufi. Yang sering dinukil dari perkataan beliau mengenai sufi bersumber dari Manaqib Al Imam As Syafi’i yang ditulis oleh Imam Al Baihaqi.

Di dalam kitab itu, Imam As Syafi’i menyatakan,
“Kalau seandainya seorang laki-laki mengamalkan tashawuf di awal siang, maka tidak tidak sampai kepadanya dhuhur kecuali ia menjadi hamqa (kekurangan akal).”
(Al Manaqib Al Imam As Syafi’i li Al Imam Al Baihaqi, 2/207)


Beliau juga menyatakan,
”Aku tidak mengetahui seorang sufi yang berakal, kecuali ia seorang Muslim yang khawwas.”
(Al Manaqib Al Imam As Syafi’i li Al Imam Al Baihaqi, 2/207)


Beberapa pihak secara tergesa-gesa menyimpulkan dari perkataan di atas bahwa Imam As Syafi’i mencela seluruh penganut sufi. Padahal tidaklah demikian, Imam As Syafi’i hanya mencela mereka yang menisbatkan kepada tashawuf namun tidak benar-benar menjalankan ajarannya tersebut.

Dalam hal ini, Imam Al Baihaqi menjelaskan,
”Dan sesungguhnya yang dituju dengan perkataan itu adalah siapa yang masuk kepada ajaran sufi namun mencukupkan diri dengan sebutan daripada kandungannya, dan tulisan daripada hakikatnya, dan ia meninggalkan usaha dan membebankan kesusahannya kepada kaum Muslim, ia tidak perduli terhadap mereka serta tidak mengindahkan hak-hak mereka, dan tidak menyibukkan diri dengan ilmu dan ibadah, sebagaimana beliau sifatkan di kesempatan lain.”
(Al Manaqib Al Imam As Syafi’i li Al Imam Al Baihaqi, 2/208)


Jelas, dari penjelasan Imam Al Baihaqi di atas, yang dicela Imam As Syafi’i adalah para sufi yang hanya sebatas pengakuan dan tidak mengamalkan ajaran sufi yang sesungguhnya.

Imam As Syafi’i juga menyatakan,
”Seorang sufi tidak menjadi sufi hingga ada pada dirinya 4 perkara, malas, suka makan, suka tidur dan berlebih-lebihan.”
(Al Manaqib Al Imam As Syafi’i li Al Imam Al Baihaqi, 2/207)


Imam Al Baihaqi menjelaskan maksud perkataan Imam As Syafi’i tersebut,

”Sesungguhnya yang beliau ingin cela adalah siapa dari mereka yang memiliki sifat ini. Adapun siapa yang bersih kesufiannya dengan benar-benar tawakkal kepada Allah Azza wa Jalla, dan menggunakan adab syari’ah dalam muamalahnya kepada Allah Azza wa Jalla dalam beribadah serta mummalah mereka dengan manusia dalam pergaulan, maka telah dikisahkan dari beliau (Imam As Syafi’i) bahwa beliau bergaul dengan mereka dan mengambil (ilmu) dari mereka.
(Al Manaqib Al Imam As Syafi’i li Al Imam Al Baihaqi, 2/207)


Kemudian Imam Al Baihaqi menyebutkan satu riwayat, bahwa Imam As Syafi’i pernah mengatakan,

”Aku telah bersahabat dengan para sufi selama sepuluh tahun, aku tidak memperoleh dari mereka kecuali dua huruf ini,”Waktu adalah pedang” dan “Termasuk kemaksuman, engkau tidak mampu” (maknanya, sesungguhnya manusia lebih cenderung berbuat dosa, namun Allah menghalangi, maka manusia tidak mampu melakukannya, hingga terhindar dari maksiat).
Jelas, bahwa Imam Al Baihaqi memahami bahwa Imam As Syafi’i mengambil manfaat dari para sufi tersebut. Dan beliau menilai bahwa Imam As Syafi’i mengeluarkan pernyataan di atas karena prilaku mereka yang mengatasnamakan sufi namun Imam As Syafi’i menyaksikan dari mereka hal yang membuat beliau tidak suka. (lihat, Al Manaqib Al Imam As Syafi’i li Al Imam Al Baihaqi, 2/207)

Bahkan Ibnu Qayyim Al Jauziyah menilai bahwa pernyataan Imam As Syafi’i yang menyebutkan behwa beliau mengambil dari para sufi dua hal atau tiga hal dalam periwayatan yang lain, sebagai bentuk pujian beliau terhadap kaum ini,

Wahai, bagi dua kalimat yang betapa lebih bermanfaat dan lebih menyeluruh. Kedua hal itu menunjukkan tingginya himmah dan kesadaran siapa yang mengatakannya. Cukup di sini pujian As Syafi’i untuk kelompok tersebut sesuai dengan bobot perkataan mereka.”
(lihat, Madarij As Salikin, 3/129)
Imam As Syafi’i Memuji Ulama Sufi

Bahkan di satu kesempatan, Imam As Syafi’I memuji salah satu ulama ahli qira’ah dari kalanagn sufi. Ismail bin At Thayyan Ar Razi pernah menyatakan,
”Aku tiba di Makkah dan bertemu dengan As Syafi’i. Ia mengatakan,’Apakah engkau tahu Musa Ar Razi? Tidak datang kepada kami dari arah timur yang lebih pandai tentang Al Qur`an darinya.’Maka aku berkata,’Wahai Abu Abdillah sebutkan ciri-cirinya’. Ia berkata,’Berumur 30 hingga 50 tahun datang dari Ar Ray’. Lalu ia menyebut cirri-cirinya, dan saya tahu bahwa yang dimaksud adalah Abu Imran As Shufi. Maka saya mengatakan,’Aku mengetahunya, ia adalah Abu Imran As Shufi. As Syafi’i mengatakan,’Dia adalah dia.’”
(Adab As Syafi’i wa Manaqibuhu, hal. 164)


Walhasil, Imam As Syafi’I disamping mencela sebagian penganut sufi beliau juga memberikan pujian kepada sufi lainnya. Dan Imam Al Baihaqi menilai bahwa celaan itu ditujukan kepada mereka yang menjadi sufi hanya dengan sebutan tidak mengamalkan ajaran sufi yang sesungguhnya dan Imam As Syafi’i juga berinteraksi dan mengambil manfaat dari kelompok ini. Sedangkan Ibnu Qayyim menilai bahwa Imam As Syafi’i juga memberikan pujian kepada para sufi.

Dengan demikian, pernyataan yang menyebutkan bahwa Imam As Syafi’i membenci total para sufi tidak sesuai dengan data sejarah, juga tidak sesuai dengan pemahaman para ulama mu’tabar dalam memahami perkataan Imam As Syafi’i. Wallahu’alam…



Rujukan:

1. Manaqib Al Imam As Syafi’i, karya Al Baihaqi, t. As Sayyid Ahmad Shaqr, cet.Dar At Turats Kairo, th.1390 H.
2. Madarij As Salikin, karya Ibnu Qayyim Al Jauziyah, cet. Al Mathba’ah As Sunnah Al Muhamadiyah, th. 1375 H.
3. Adab As Syafi’I wa Manaqibuhu, karya Ibnu Abi Hatim Ar Razi, cet. Dar Al Kutub Al Ilmiyah, th. 1424 H.


READ MORE - Penilaian Imam Asy Syafie Terhadap Sufi

Tingkatan Maqam Nafsu



Tingkatan Maqam nafsu

Sabda Rasulallah saw;

انّ في الجسد مضغة اذا صلحت صلح الجسد كلّه واذا فسدت قسد الجسد كلّه ألا وفي القلب.

'
Sesungguhnya dalam tubuh jasad anak adam itu ada seketul daging bila baik ia nescaya baiklah seluruh anggota tubuhnya dan bila jahat ia nescaya jahatlah seluruh anggota tubuhnya. Ketahuilah iaitulah hati. ( riwayat al-Bukhari dan Muslim)


Hadis diatas menerangkan kepada kita pengaruh hati pada kelakuan bahkan seluruh penghidupan sesorang itu. Kerana jika baiknya hati kita maka baiklah segala perbuatan kita, jika jahatnya hati kita maka jahatlah segala kelakuan kita. Hati itu ibarat raja dan anggota tubuh badan adalah rakyat....jika hati mahukan itu dan ini maka anggota tubuh badanlah yang akan sedaya upaya melaksanakannya...

Nasfu itu sebenarnya ada yang baik dan ada yang jahat. Nafsu yang baik itu datang dari hati yang suci bersih contohnya seseorang yang selalu ingin melakukan kebaikan, suka beribadat, suka mengingati Allah, suka membaca al-Quran. Manakala nafsu yang jahat pula datang dari hati yang kotor lagi berkarat contohnya selalu ingin melakukan perbuatan yang jahat, hasad dengki,tamak dendam dan sewaktu dengannya...

Di dalam ilmu Tasawuf, peringkat-peringkat nafsu dan tanda-tandanya terbahagi kepada 7 martabat/darjat...

  1. Ahli Nafsu Ammarah
Tabiat hati ahli peringat ini selalu terdedah kepada godaan hawa nafsu dan syaitan. Oleh itu nafsu ammarah sentiasa menyuruh seseorang itu melakukan kejahatan, sama ada dia faham perbuatan itu jahat ataupun tidak. Baik jahat adalah sama di sisi perasaan hatinya. Dia tak pernah rasa bersalah atau menyesal dengan segala perbuatan jahatnya malah terkadang berasa lega dan gembira melakukannya.

Contoh sifat-sifat ahli nafsu ammarah ialah bakhil/kedekut, tamakkan harta dunia, panjang angan-angan, sombor dan takabbur, sukakan kemegahan dan kemayhuran, hasad dengki dan berdendam, lalai pada Allah dll.

Syurga tidak terjamin untuk mereka kerana mereka ibarat tembaga atau besi berkarat yang perlu dibakar terlebih dahulu sehingga suci bersih. Jika mahu mengikis sifat-sifat kotor dan berkarat ini hendaklah mereka masuk ke dalam golongan sufi serta mengikut cara peraturan orang-orang sufi bagi meleburkan sifat-sifat tersebut.

2. Ahli Nafsu Lawwamah

Nafsu Lawwamah ialah nafsu yang selalu mengkritik diri sendiri atau mencela diri sendiri apabila berlaku suatu kejahatan, atau dosa ke atas dirinya. Seperti firman Allah:

"Dan Aku (Allah) bersumpah demi jiwa yang selalu menyesali (dirinya sendiri/ lawwamah).....(surah al-Qiyamah: 2)

Nafsu ini lebih elok dan tinggi sedikit darjatnya daripada nafsu ammarah kerana ia tidak puas hati di atas dirinya yang melakukan kejahatan lalu ia mencela dan mencerca dirinya sendiri. Namun tabiatnya sekali sekala tidak terlepas dari melekukan maksiat dan kejahatan, lalu ia cepat-cepat beristigfar kepada Allah serta menyesal atas perbuatannya

Contoh sifat-sifat ahli nafsu lawwamah ialah mencela atas kesalahan diri sendiri, bertabiat berfikir (bertafakur), terdapat perasaan takut bila melakukan kesalahan, terdapat perasaan mengkritik terhadap apa jua yang dikatakan kejahatan, bersangka dirinya lebih baik (ujub)dan bersikap riak, memperdengar kpd orang tentang kebaikan yang dia lakukan sendiri supaya mendapat pujian.

Martabat nafsu lawwamah ini terletak pada kebanyakkan orang awam. Syurga untuk orang martabat ini masih tidak terjamin kecuali dengan keampunan dan rahmat dari Allah swt, kerana dihati mereka masih terlekat sisa-sisa sifat kotor yang perlu dihakis habis sperti riak, ujub dsb.

Mereka ibarat perak bercampur tembaga dan nilainya tinggi sedikit dari tembaga berkarat tadi. Jadi untuk mengikis segala sifat-sifat buruk mereka haruslah mengikis habis-habisan dari lubuk hati mereka dengan penawar jalan kesufian.

3. Ahli Nafsu Mulhamah

Nafsu Mulhamah ialah nafsu yang sudah menerima latihan beberapa proses kesucian dari sifat-sifat hati yang cemar melalui tariqat sufiah. Maka terbuanglah lintasan-lintasan fikiran kotor atau khuatir-khuatir syaitan dan diambil alih pula dengan lintasan-lintasan dari malaikat atau Allah dimana ia disebutkan sebagai 'ilham'.

Contoh sifat-sifat ahli nafu Mulhamah ialah tidak sayangkan harta, berasa cukup dengan apa yang ada, berilmu laduni atau ilham, tawaduk (merendah diri pada Allah), taubat yang hakiki, sabar yang hakiki, tahan menanggung ujian dan dugaan dll sifat terpuji..

Mereka boleh dinilai atau disifat dengan ahli syurga kerana mereka diibarat sebagai tuasa yang tetap tahan dan tidak boleh berkarat lagi. Mereka boleh dikatakan baru mulai masuk ke sempadan maqam wali yakni mereka kerap kali mencapai fana yang menghasilkan rasa makrifat dan hakikat (syuhud) tetapi masih belum istiqamah.

4. Ahli Nafsu Mutmainnah

Nafsu mutmainnah adalah permulaan mendapat darjat wali kecil ( ولاية صغرى) . Seperti firman Allah :

Wahai jiwa yang tenang ( nafsu mutmainnah). Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang redha dan diredhaiNya. Maka masuklah kedalam golongan hamba-hambaKu. Dan masuklah kedalam syurgaKu. ( surah al-Fajr :27-30)

Contoh sifat-sifat ahli nafsu Mutmainnah ialah murah hati tak lekat duit di tangan kerana selalu bersedekah, tawakal yang benar, arif dan bijaksana, kuat beribadat, syukur yang benar, redha pada segala hukuman Allah, Taqwa yang benar...

Biasanya mereka dari martabat ini tidak termesti mempunyai keramat-keramat yang luarbiasa , ilmu yang tak payah belajar (ilham) kerana ia dapat mengesan rahsia-rahsia dari Loh Mahfuz. Syurga untuk golongan ini terjamin kerana mereka ibarat emas 7 yang bermutu.

5. Ahli Nafsu Radhiah

Mereka sudah berjaya mencapai kejernihan hati yang teguh. Bukan senang mencapai maqam nafsu ini kerana ia bukanlah sebarang benda yang boleh disumbatkan ke dalam hati jika tidak ada kesungguhan yang hakikidalam perjuangan mujahadah dan ibadat dalam mencapai maqam nafsu yang mulia ini. Tabiat mereka adalah luar biasa kerana mereka tidak takut pada bala Allah dan tidak gembira pada nikmat yang diberikan Allah. Yang mereka tahu hanyalah keredhaan pada Allah dan hukumannya. Bagi mereka bala atau nikmat itu sama saja. Nafsu mereka sudah terkikis dari akar umbi kesemua sekali dan muncul pula sinaran nur syuhud yang membawa pada makrifat, datang bertalu-talu masuk ke dalam hati nurani mereka.

Maqam ini digelarkan wali Allah dalam martabat orang khawas. Mereka ibarta emas bermutu lapan dan syurga memang terjamin kerana sifat mereka yang zuhud, warak, ikhlas dan segala sifat terpuji yang tiggi-tinggi...

6. Ahli Nafsu Mardhiyyah

Maqam ini adalah yang tertinggi dari maqam radhiah kerana percakapan atau kelakuan mereka adalah diredhai Allah dan diakui Allah. Jiwa mereka, perasaan mereka, lintasan hati mereka, gerak geri mereka, penglihatan, pendengaran, pancaindera, penumbuk penerajang mereka kesemuanya diredhai Allah. seperti di dalam hadis Qudsi ;

"Sentiasalah hambaKu berdamping diri kepadaKu, dengan megerjakan ibadat sunnat hingga aku kasihkan dia, maka apabila Aku kasihkan dia nescaya dalah aku pendengarannya yang ia mendengar dengannya, penglihatannya yang ia dengar dengannya, pertuturan lidahnya yang ia bertutur dengannya, penampar tangannya yang ia tampar dengannya, berjalan kakinya yang ia berjalan dengannya, dan fikiran hatinya yang ia fikir dengannya.

Maka timbullah perkara-perkara ajaib yang luarbiasa seperti berjalan di atas air, terbang di udara, pergi ke Makkah dalam sekelip mata dsb. Mereka digelar wali Allah dalam martabat Khawas al-khawadh yakni wali Allah dalam martabat yang istimewa daripada wali-wali yang tertentu. Mereka ibarat emas bermutu sembilan dan syurga adalah terjamin.

Mereka bersifat budi berkerti yang tinggi ibarat nabi-nabi, dan sentiasa berfikir tentang kebesaran Allah serta segala sifat terpuji yang tertinggi sekali.

7. Ahli Nafsu Kamil

Orang yang hendak mencapai nafsu kamil ini mestilah ia melalui dahulu proses perjalanan nafsu-nafsu satu demi satu dari nafsu yang terendah sekali iaitu ammarah hingga sampai ke maqam nafsu yang tertinggi iaitu nafsu kamil. Maqam nafsul ini adalah tertinggi dan teristimewa sekali dari maqam wali-wali yang ada di muka bumi ini. Kerana mereka dapat menghimpunkan antara batin dengan zahir atau antra hakikat dengan syariat.

Ruh mereka atau hati mereka kekal dengan Allah tetapi zahir tubuh kasar mereka bersama-sama dengan pergaulan orang ramai. Hati mereka kekal bersama Allah tidak kira diwaktu lena ataupun jaga mereka dapat musyahadah dengan Allah dalam setiap ketika. Tidak dapat dinilai dengan apa-apa walaupun duni dan seisinya kerana ia adalah khawas al-khawas. Segala kelakuan mereka adalah ibadat semata-mata. Syurga bagi mereka adalah yang teristimewa sekail.

Akhir sekali sama-samalah kita nilai dimanakah letaknya kedudukan hati kita, maqam hati kita dan nilai diri kita di mata Allah swt... Alangkah jauhnya untuk kita tempuhi jalan yang penuh onak duri ini...namun dengan kesungguhan, istiqamah yang berteusan, Biiznillah Allah akan beri peluang pada kita untuk kita menghampiriNya. Sesungguhnya Allah tidak akan menghampakan hambaNya yang ingin mendekatiNya....asalkan hati kita ikhlas...hanya kerana Allah bukan kerana ingin mendapatkan ilham, kasyaf, keramat, mahupun syurga... kerana hati yang ikhlas hanya pada Allah dan hanya kerana Allah semata-mata. Wallahu'alam
sumber
READ MORE - Tingkatan Maqam Nafsu



Assalamualaikum wb.

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا
من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له
وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله
 اللهم صل على نبينا محمد وعلى اله وصحبه وسلم
وبعد


Bila kita berjauh jarak dengan sang terkasih Muhammad Rasulullah. Kita hanya bisa menjumpainya melalui do’a-do’a yang kita lantunkan, memohon syafa’at Nabi untuk keselamatan kita di akhirat dari pedihnya azab neraka, tidakkah foto-foto berikut ini mengubati kerinduan kita yang sangat dalam kepada Sang Nabi Tercinta, Kekasih Allah, peribadi mulia panutan alam??Ratusan orang menitiskan air matanya setelah menatap langsung baju beliau yang bersahaja dan sudah robek, sandal beliau, keranda beliau yang tak terhalang apapun. Allahu Akbar … serasa dekaaat denganmu ya Rasulullah … Andai aku bisa melihat wajahmu, gugur segala persendianku, tidak tertahan dengan kenikmatan memandang kemuliaan wajahmu… Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad …. 

(Foto-foto ini kebanyakan adalah koleksi yang tersimpan dari berbagai tempat di beberapa negara: Museum Topkapy di Istambul Turki, Yordania, Irak dan negara-negara Timur Tengah lainnya. Selamat merasakan kelazatan menatap peninggalan-peninggalan ini. Semoga kerinduan kita semakin memuncak kepada sang Nabi Agung, sang kekasih Allah …)

Allahumma shalli ‘ala sayyidina wa maulana Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassallam …
__________________________
a

the-blessed-shirt-of-prophet-muhammad-saw

The Blessed Shirt of Prophet Muhammad SAW (Baju gamis Nabi SAW yang lusuh dan robek-robek. Yaa Allah … betapa sederhananya baju sang pemimpin dunia yang suci nan agung ..!!)

a
the-blessed-shirt1-of-prophet-muhammad-saw

The Blessed Shirt of Prophet Muhammad SAW (Bahagian dari baju gamis Nabi SAW yang sudah sobek)

a
jubah-rasulullah1

Jubah Nabi Muhammad, Rasulullah SAW

a
blessed-seal-of-rasool-allah-saw1

The Blessed Seal of Rasulullah SAW (Cap surat Nabi SAW)

a
copy-of-the-blessed-bowl-of-prophet-muhammad-saw

Mangkuk tempat minum Rasulullah SAW

picture1.jpg
Kunci Ka’bah Masa Nabi Muhammad SAW


a
the-blessed-foot-print-of-rasool-allah-saw
jejak-kaki-nabi
Jejak Kaki Rasulullah SAW


a
blessed-hair-of-rasool-allahsaw
rambut-nabi
Beberapa helai rambut Rasulullah SAW 


a
gigi-dan-rambut1

Peninggalan gigi dan rambut Nabi. 
a

Wadah Kotak Gigi Rasulullah SAW

a


picture4.jpg
pedang2-nabi-dengan-nama-namanya1
pedang2-nabi-dengan-nama-namanya2
pedang2-nabi-dengan-nama-namanya
Berbagai pedang yang pernah dimiliki Nabi dengan nama-namanya yang digunakan untuk menegakkan ajaran tauhid, ketika orang-orang kafir memerangi Nabi dan dakwahnya sehingga harus bagi umat islam mengangkat pedang. 


a

Gagang Pedang “Hatf” Nabi SAW tampak lebih jelas 
a
busur-panah-nabi
Busur Panah Nabi SAW

a
a

Bendera Rasululullah SAW


Ini lebih jelasnya.

aa

Salah satu serban/tutup kepala  Rasulullah SAW

a

Topi Besi Rasulullah SAW
a

Baju dan barang-barang Rasulullah SAW



blessed-sandals2-of-rasool-allah-saw
blessed-sandal-of-rasool-allah-saw

Sandal-sandal (terumpah) peninggalan Rasulullah SAW tercinta 

a
letter-to-nijashi-king-of-habsha

Surat Nabi SAW kepada Raja Nijashi, Raja Habsyah

a
letter-to-omani-people

Surat Nabi SAW kepada rakyat Oman, Arab Selatan

a
letter-to-qaiser_e_rome

Surat Nabi SAW kepada Kaisar Romawi abad ke- 7

a

Surat Rasulullah SAW pada Raja Heraclius

a
prophets-letter-to-muqauqas-egypt

Surat Nabi SAW kepada Raja Muqauqas, Mesir

a

Makan Siti Aminah, Ibunda Rasululllah SAW



box-belonging-to-hazrat-fatima-rz
Kotak milik putri tercinta Nabi SAW, Sayyidah Fatimah Az-Zahra R.A.


a
picture6.jpg

PINTU EMAS MAKAM NABI MUHAMMAD SAW

a
the-blessed-dust-from-the-tomb-of-the-prophet

The blessed dust from the tomb of the Prophet Muhammad PUBH (Butiran pasir yang diambil dari makam Nabi Muhammad SAW)

Mengalirlah air mata bagi yang rindu dan cinta pada junjungan besar Nabi Muhammad Sallallahu alaihi wasallam walaupun wajahnya tidak pernah kita tatapi, walaupun suaranya tidak pernah kita dengari namun kehadirannya kekal abadi di dalam hati sanubari.....
READ MORE - Foto-foto Eksklusif Peninggalan Rasulullah SAW: Menggetarkan, Menyentuh Qalbu dan Menambah Cinta!!
Related Posts with Thumbnails

Tuan Guru dan Habib Umar

Tuan Guru dan Habib Umar

jom ikut saye

pelawat

  © Blogger template Brownium by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP